CIANJUR bekasitoday.com– Malam Jumat Kliwon menjadi pengalaman tak terlupakan bagi lima pencinta Gunung Padang asal Bekasi dan Jakarta. Pundjung Manoe, Cahaya Adi Wibowo, Anrico Pasaribu, Edison Siahaan, dan Dar Edi Yoga mendaki situs megalitik terbesar di Asia Tenggara itu selepas Maghrib, ditemani Kepala Juru Pelihara, Nanang Sukmana, Kamis (13/11/2025) malam.
Pendakian dalam Gelap.
Dengan hanya berbekal cahaya senter ponsel, rombongan meniti tangga berbatu menuju teras pertama. Gelap pekat, aroma tanah basah, dan suara serangga malam membuat suasana terasa sakral. Meski lututnya sejak sore terasa sakit, Edison Siahaan tetap melangkah mantap bersama rombongan.
Peristiwa Tak Terduga.
Sesampainya di teras pertama, sebelum doa dimulai, Edison terpeleset di batu licin. Lututnya menghantam keras batu punden berundak. Rombongan sempat terkejut, namun Edison segera berdiri. Yang mengejutkan bukanlah jatuhnya, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
“Lutut saya… malah sembuh, “ujar Edison dengan suara bergetar.
Rasa ngilu yang selama ini menyiksanya hilang seketika. Ia bahkan dapat berdiri tegak dan melangkah ringan tanpa rasa sakit.
“Tuhan punya caranya sendiri untuk menyembuhkan, “tambahnya sambil memuji nama Tuhan berulang kali.
Angin Misterius.
Tak lama setelah insiden itu, doa dipanjatkan. Tepat ketika doa baru dimulai, hembusan angin besar datang dari arah lereng, berputar mengitari rombongan sebelum tiba-tiba mereda. Usai angin hilang, suasana berubah total: kedamaian menyelimuti teras pertama hingga teras kelima. Tidak ada lagi angin kencang, tidak ada suara asing, hanya ketenangan mendalam.
Gunung Padang: Lebih dari Situs Purba.
Bagi rombongan, malam itu bukan sekadar eksplorasi situs bersejarah. Itu adalah perjalanan spiritual penuh kejadian yang sulit dijelaskan. Peristiwa yang mereka alami menegaskan keyakinan lama bahwa Gunung Padang bukan hanya peninggalan purba, melainkan ruang hidup yang menyimpan misteri hingga hari ini.(red).
