Saya, Djiung, kawan-kawan memanggil saya Golok Terbang. Saya hanya seorang pesilat yang terus belajar, dan dalam proses belajar itu saya sampai pada satu keyakinan: ilmu persilatan akan kehilangan maknanya jika tidak diiringi manfaat bagi sesama.
Sejak awal saya diajarkan bahwa pesilat bukan orang yang gemar meninggikan diri. Justru sebaliknya, semakin dalam ilmunya, semakin rendah hatinya. Jurus tidak dipamerkan, tenaga tidak disombongkan. Karena itu, setiap kali terjadi bencana dan saya melihat penderitaan di sekitar kita, selalu muncul pertanyaan dalam diri saya: apakah latihan kita selama ini sudah benar-benar sampai pada tujuan kemanusiaannya?.
Indonesia adalah negeri yang indah sekaligus rapuh. Alam memberi kehidupan, tetapi juga bisa menghadirkan musibah. Banjir, gempa, longsor, kebakaran, dan berbagai bencana sosial datang silih berganti.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat membutuhkan banyak tangan yang siap membantu. Bukan tangan yang gagah, melainkan tangan yang terlatih, sabar, dan mau bekerja tanpa pamrih.
Saya melihat potensi itu pada para pesilat. Kita terbiasa disiplin, patuh pada aturan, dan menjaga kekompakan. Kita dilatih untuk tenang dalam tekanan dan tidak gegabah dalam bertindak.
Nilai-nilai ini sangat berharga dalam kebencanaan. Karena itulah saya ikut mendorong lahirnya Pendekar Rescue di Bekasi, bukan sebagai simbol kehebatan, melainkan sebagai ruang belajar agar pesilat bisa membantu dengan cara yang benar.
Di Pendekar Rescue, kami belajar banyak hal dasar: mitigasi bencana, navigasi darat, manajemen kebencanaan, dapur umum, medis dasar, water rescue, hingga penanganan gempa. Semua disesuaikan dengan standar lembaga resmi seperti BPBD, SAR, dan BNPB. Tujuannya satu: ketika turun ke lapangan, kita tidak merepotkan, tetapi justru meringankan.
Saya sadar betul, persilatan di Nusantara tumbuh dari kebudayaan dan kearifan lokal. Leluhur kita sudah lama mengajarkan tentang kebersamaan, gotong royong, dan cara bertahan dalam krisis. Pesilat hari ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai itu tetap hidup, bukan hanya dalam cerita, tetapi dalam tindakan nyata yang relevan dengan zaman.
Pengiriman bantuan dari Bekasi ke Sumatera bersama kawan-kawan Katana Jatimulya dan Katar Rescue Mustika Jaya menjadi pengingat bagi saya. Lima relawan berangkat membawa amanah banyak orang. Mereka bekerja dalam senyap, melaporkan kondisi lapangan dengan jujur, dan mengutamakan keselamatan.
Bagi saya, inilah wajah persilatan yang menyejukkan: hadir tanpa ribut, bekerja tanpa banyak bicara.
Saya tidak mengajak para pesilat menjadi pahlawan. Saya pun tidak pernah merasa pantas disebut demikian. Yang ingin saya sampaikan hanya satu ajakan sederhana: mari kita gunakan apa yang kita miliki untuk kebaikan. Belajarlah tentang kebencanaan, siapkan diri, dan ketika musibah datang, turunlah dengan niat menolong.
Jika belum mampu terjun langsung, kita bisa membantu dengan cara lain seperti ikut membantu mengumpulkan logistik, menyebarkan informasi yang benar, atau mendukung relawan di lapangan. Semua peran itu mulia jika dilakukan dengan tulus.
Bagi saya, pesilat sejati adalah orang yang mampu menundukkan egonya dan mengangkat sesamanya. Jika persilatan ingin terus hidup di tengah masyarakat, maka ia harus hadir sebagai solusi, sebagai pengayom, dan sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk selalu memilih jalan manfaat, sekecil apa pun langkah yang bisa kita ambil.
Penulis: Deni Djiung
Editor: Bisot
