JAKARTA- bekasitoday.com- Perkembangan Artificial Intelligence (AI) di Indonesia bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. Layaknya pisau bermata dua, teknologi ini dapat menjadi motor penggerak kemajuan bangsa, namun juga berpotensi menimbulkan dampak destruktif bila digunakan tanpa kesiapan literasi publik. Gelombang ini tidak bisa dihindari; yang bisa dilakukan adalah menyiapkan masyarakat agar mampu menyikapinya secara kritis dan beradab.
Tantangan Utama: SDM dan Literasi Publik.
Kompleksitas persoalan AI di Indonesia tidak hanya soal infrastruktur digital atau regulasi. Yang lebih mendasar adalah kesiapan sumber daya manusia. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan subjek yang memahami cara kerja, risiko, dan manfaatnya.
Dua Intelektual, Satu Misi.
Dalam konteks ini, dua sosok intelektual Indonesia tampil mengambil peran penting:
– Kun Abyoto Wardana – dikenal publik sebagai “anak ajaib” karena menempuh pendidikan tinggi sejak usia 12 tahun. Namanya sempat mencuat dalam kontestasi politik DKI Jakarta sebagai kandidat Wakil Gubernur, dan kini berkiprah sebagai Dekan di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN).
– Rahadi Wangsapermana (Rully) – pengamat Perang Asimetris, penulis aktif tentang intelijen dan geopolitik, sekaligus CEO PT Royal Monarki Investama yang tengah mengintegrasikan kerja sama teknologi strategis dengan Tiongkok di bidang dirgantara, maritim, satelit, dan telekomunikasi.
Meski berasal dari latar berbeda, keduanya memiliki benang merah: sama-sama alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan kini kembali dipertemukan dalam misi membangun pemahaman serta diseminasi teknologi AI bagi masyarakat Indonesia.
Kerja Sama Internasional.
Baru-baru ini, Kun dan Rully memenuhi undangan kerja sama di Nanning Vocational and Technical University, Tiongkok. Perguruan tinggi ini memiliki School of Artificial Intelligence yang cukup dikenal di daratan Tiongkok.
– Kun hadir mewakili ISTN.
– Rully mewakili PT Royal Monarki Investama.
Agenda utama kunjungan tersebut adalah pertukaran pengajar di bidang AI serta pengiriman generasi muda Indonesia untuk belajar langsung di pusat-pusat pengembangan teknologi. Visi yang dibangun bukan sekadar kerja sama institusional, melainkan upaya membentuk bangsa yang cerdas dan menguasai teknologi, bukan bangsa yang dikendalikan oleh teknologi.
AI: Antara Harapan dan Ancaman.
Di tengah euforia digitalisasi, AI sering dipuja sebagai solusi instan bagi berbagai problem: pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan. Namun, tanpa fondasi etika dan literasi, AI juga bisa memperlebar kesenjangan sosial, mempercepat disinformasi, bahkan menjadi instrumen kontrol yang berbahaya.
Upaya Kun dan Rully menempatkan AI bukan sebagai komoditas semata, melainkan sebagai pengetahuan strategis yang harus dipahami publik. Pendekatan ini menandai pergeseran penting: dari sekadar adopsi teknologi menuju kedaulatan teknologi.
Indonesia di Persimpangan.
Indonesia kini berada di persimpangan. AI bisa menjadi motor peradaban baru atau justru alat yang memperdalam ketergantungan. Masa depan itu tidak ditentukan oleh mesin, melainkan oleh cara manusia menyiapkannya. Seperti pisau, AI akan mengikuti tangan yang menggenggamnya-apakah untuk mengiris jalan kemajuan, atau melukai dirinya sendiri.(Red).
