Eks KaBAIS Buka-Bukaan: Energi Besar di Tubuh TNI Berpotensi Jadi Risiko

IMG 20260329 WA0037
Soleman B. Ponto

JAKARTA- bekasitoday.com– Pengamat militer dan intelijen, Soleman B. Ponto, menyoroti kondisi Badan Intelijen Strategis TNI yang dinilai tengah menghadapi risiko pelemahan dari dalam sistem pembinaan karier di tubuh militer.

Dalam analisisnya, Soleman menegaskan bahwa BAIS sebagai instrumen strategis negara seharusnya berada di garis terdepan dalam membaca ancaman serta melakukan deteksi dini. Namun, ia menilai terdapat pergeseran orientasi yang berdampak pada menurunnya ketajaman fungsi intelijen.

“Masalah BAIS bukan datang dari luar, tetapi dari dalam sistemnya sendiri, terutama terkait struktur kepangkatan, pola promosi, dan pengaturan usia pensiun, “ujar Soleman, yang juga pernah menjabat Kepala BAIS TNI periode 2011–2013, Minggu (29/3/2026).

Soleman menjelaskan, dalam struktur Tentara Nasional Indonesia, jabatan perwira tinggi bintang tiga seperti letnan jenderal, laksamana madya, dan marsekal madya kerap dikaitkan dengan jalur menuju posisi puncak, yakni Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).

Konsekuensinya, jabatan strategis termasuk di BAIS tidak lagi sepenuhnya berbasis profesionalisme intelijen, melainkan menjadi bagian dari konfigurasi karier menuju pucuk pimpinan.

“Ketika logika karier ini masuk ke BAIS, maka orientasi jabatan ikut berubah. Tidak lagi murni kebutuhan intelijen, tetapi bagian dari mekanisme seleksi kepemimpinan, “jelasnya.

Ia menilai, pada level perwira tinggi bintang dua, profesionalisme justru berada pada titik paling optimal. Perwira pada jenjang ini dinilai aktif membangun rekam jejak, menunjukkan kapasitas, serta bersaing untuk naik ke tingkat berikutnya.

“Di sinilah sumber analisis tajam, operasi yang hidup, dan inovasi berkembang. Lapisan ini menjadi tulang punggung kualitas intelijen, “ungkapnya.

Sorotan tajam juga diarahkan pada penumpukan perwira di level kolonel. Soleman menyebut fase ini sebagai titik paling produktif dalam karier militer, dengan kombinasi fisik prima, pengalaman matang, dan keberanian operasional yang tinggi. Namun, menurutnya, banyak perwira di level ini mengalami hambatan karier yang tidak jelas arahnya.

“Kolonel itu paling kuat, tapi banyak yang terhenti. Tidak jelas arah kariernya. Ini berbahaya, “tegasnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa dalam sejarah, dinamika besar kerap muncul dari perwira di level ini, dengan mencontohkan tokoh seperti Untung Syamsuri, Abdul Latief, Idi Amin, dan Gregorio Honasan yang berada pada fase kolonel atau setara saat memainkan peran penting dalam sejarah.

Lebih lanjut, Soleman menilai bahwa energi besar dari perwira kolonel yang tidak tersalurkan berpotensi menjadi masalah struktural.

“Kalau kemampuan tinggi tidak punya kanal resmi, bisa muncul frustrasi, konflik kepentingan, bahkan potensi disrupsi organisasi, “katanya. Dalam konteks intelijen, kondisi ini dinilai merugikan negara karena berpotensi kehilangan operator terbaik pada masa puncak kemampuan mereka.

Selain itu, ia juga menyoroti sistem usia pensiun yang dinilai turut memengaruhi orientasi perwira tinggi. Dengan adanya perpanjangan masa dinas seiring kenaikan pangkat, fokus perwira disebut dapat bergeser dari tugas operasional ke kepentingan jabatan.

“Orientasi berubah dari operasi ke promosi. Ini rasional, karena kenaikan pangkat berarti tambahan masa dinas, “ujarnya.

Permasalahan lain yang disorot adalah terbatasnya jumlah perwira dengan latar belakang intelijen yang mampu mencapai level bintang tiga. Hal ini dinilai memunculkan pendekatan pragmatis dalam penempatan pimpinan.

“Akhirnya muncul anggapan ‘siapa saja bisa’. Secara struktur mungkin bisa, tapi hasilnya belum tentu optimal, “kata Soleman.

Dengan berbagai persoalan tersebut, Soleman menilai BAIS berisiko kehilangan daya gigit sebagai lembaga intelijen strategis. Menurutnya, meski operasi dan laporan tetap berjalan, ketajaman analisis dapat melemah.

“Operasi tetap ada, laporan tetap jalan, tapi ketajaman hilang. Ini yang berbahaya, “tegasnya.

Ia pun menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi BAIS justru berasal dari dalam sistem itu sendiri.

“Kalau energi tidak tersalurkan dan orientasi bergeser dari tugas ke jabatan, maka intelijen hanya akan menjadi rutinitas administratif, bukan lagi alat keunggulan strategis negara, “pungkasnya.(Nr).

Bagikan:
error: