JAKARTA- bekasitoday.com– Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen, menyoroti fenomena Indonesia yang kerap disebut sebagai negara net importir meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Ia mempertanyakan apakah tingginya angka impor semata-mata disebabkan keterbatasan produksi dalam negeri, atau ada kepentingan tertentu yang memboncengi praktik impor sehingga dilakukan secara sistematis.
“Apakah ini murni karena kita tidak mampu memproduksi sendiri, atau ada kepentingan tertentu yang memboncengi praktik impor, sehingga dilakukan secara sistematis karena lebih menguntungkan bagi pihak-pihak tertentu? Ini yang perlu dikaji secara jernih, “ujar Silaen dalam konferensi pers di Jakarta.
Ketergantungan Bahan Baku.
Silaen menjelaskan bahwa sebagian besar impor Indonesia bukan barang konsumsi, melainkan bahan baku dan barang penolong industri. Sektor otomotif, elektronik, hingga tekstil memang melakukan perakitan di dalam negeri, tetapi komponen utama masih didatangkan dari luar.
“Industri hulunya belum kuat. Akibatnya, kita merakit di sini, tetapi nilai tambah terbesar tetap berada di negara produsen komponen, “katanya.
Sektor Pangan.
Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris, menurut Silaen, justru masih bergantung pada impor komoditas strategis seperti beras, gula, daging sapi, dan kedelai. Ia menilai persoalan klasik terus berulang tanpa penyelesaian konsisten. Faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibanding peningkatan produktivitas lahan, dampak cuaca ekstrem seperti El Nino, serta tingginya biaya logistik domestik menjadi penyebab utama.
“Setiap kali terjadi gagal panen, faktor cuaca sering dijadikan kambing hitam. Padahal yang dibutuhkan adalah pembenahan sistemik dan solusi permanen, “tegasnya.
Barang Modal dan Teknologi.
Lebih lanjut, Silaen menyinggung impor barang modal seperti mesin dan teknologi tinggi. Menurutnya, kebutuhan tersebut wajar dalam pembangunan industri dan infrastruktur, namun harus diikuti dengan peta jalan yang jelas. “Kalau tidak, kita akan selamanya bergantung pada impor, “ujarnya.
Sektor Energi.
Dalam sektor energi, Silaen mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi eksportir minyak dan anggota OPEC, namun kini berstatus net importer. Kapasitas kilang dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi bahan bakar yang terus meningkat.
“Ketergantungan ini tidak bisa dibiarkan tanpa strategi jangka panjang. Kalau tidak, tekanan terhadap neraca perdagangan akan terus berulang, “jelasnya.
Efisiensi dan Biaya Terselubung.
Silaen juga menyinggung soal efisiensi harga barang impor yang sering kali lebih murah karena diproduksi dalam skala besar. Namun ia mengingatkan adanya biaya tambahan dalam praktik impor yang membuat sistem tidak sepenuhnya transparan.
“Impor bisa lebih efisien dari sisi harga dan kualitas. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap berbagai biaya tambahan yang membuat sistem ini tidak sepenuhnya transparan, “tandasnya.
Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar pembatasan impor, melainkan strategi besar penguatan industri hulu, perbaikan tata kelola, serta keberanian mengambil keputusan jangka panjang demi kemandirian ekonomi nasional.(Nr).
