Hujatan Tak Henti, Bea Cukai Balas dengan Prestasi: Rekor Penyelundupan 18 Ton Narkoba Digagalkan Selama 2025

Hujatan Tak Henti Bea Cukai Balas dengan Prestasi Rekor 18 Ton Narkoba Digagalkan Selama
Tim Gabungan Gelar Konferensi Pers Hasil Tangkapan 2 Ton Narkoba Sabu di Dermaga Tanjung Uncang, Kota Batam, Senin (26/05/2025). (foto. batamnews.co.id)

Pernahkah Anda merasa jengkel karena paket belanjaan dari luar negeri tertahan lama atau harus membayar pajak yang terasa mahal? Anda tidak sendirian. Di media sosial, Bea Cukai seringkali menjadi sasaran empuk tumpahan kekesalan netizen. Namun, di balik stigma “galak” dan “ribet” tersebut, ada sisi lain yang jarang tersorot: peran mereka sebagai penjaga pintu gerbang negara dari serbuan barang haram.

Prestasi di Balik Layar: 18 Ton Narkotika Digagalkan

Sepanjang tahun 2025, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) membuktikan bahwa fungsi pengawasan mereka bukan sekadar urusan memungut pajak. Tercatat, sebanyak 1.813 kasus narkotika berhasil ditindak dengan total barang bukti fantastis mencapai 18,37 ton.

Angka ini bukan sekadar statistik. Bayangkan jika 18 ton narkotika tersebut lolos ke jalanan; jutaan generasi muda Indonesia terancam hancur. Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto, menyebutkan bahwa operasi ini berhasil mengamankan 626 pelaku.

“Modus penyelundupan terus berkembang. Mereka masuk lewat barang kiriman, jalur laut, hingga perbatasan darat yang terpencil,” jelas Nirwala. Beberapa kasus besar meliputi penggagalan jutaan gram MDMA dari Thailand hingga penemuan ladang ganja raksasa di Gayo Lues, Aceh.

Sepanjang 2025, Bea Cukai sukses membongkar berbagai skandal narkoba besar, mulai dari penyelundupan 2,14 juta gram MDMA Thailand di Kepulauan Riau, pemusnahan 5,82 ton ganja di Aceh, hingga penggerebekan pabrik narkoba rahasia di Cisauk. Tak hanya itu, peredaran etomidate di Pluit pun berhasil dihentikan sebelum meluas ke masyarakat.

Dilema Bea Cukai: Kenapa Banyak yang Membenci?

Melihat prestasi di atas, muncul pertanyaan: Mengapa instansi ini masih sering dibenci?

Secara objektif, ada beberapa alasan psikologis dan administratif yang memicu sentimen negatif masyarakat:

  1. Sentimen “Pungutan”: Secara alamiah, tidak ada orang yang senang saat uangnya diambil untuk pajak atau bea masuk. Bea Cukai berada di garis depan yang berinteraksi langsung dengan dompet masyarakat.
  2. Prosedur yang Rumit: Bagi orang awam, aturan kepabeanan seringkali dianggap berbelit-belit. Padahal, ketatnya pemeriksaan adalah cara untuk memastikan tidak ada narkotika yang “nebeng” di dalam paket kosmetik atau sepatu yang kita beli.
  3. Masalah Integritas Oknum: Tak bisa dipungkiri, sejarah panjang perilaku oknum di masa lalu meninggalkan luka di hati masyarakat, sehingga prestasi besar seperti penggagalan 18 ton narkotika seringkali tertutup oleh satu-dua berita miring.

Lebih dari Sekadar Aparat Fiskal

Faktanya, salah satu tugas utama Bea Cukai adalah Community Protector (Pelindung Masyarakat). Salah satu buktinya adalah ketajaman mereka dalam mendeteksi zat berbahaya baru.

Tahun ini, Bea Cukai menjadi pionir dalam mengusulkan Etomidate—zat yang sering disalahgunakan—untuk masuk dalam golongan narkotika. Usulan ini akhirnya disahkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025. Hasilnya? Lebih dari 50.000 gram zat berbahaya ini berhasil diamankan sebelum merusak lebih banyak orang.

Bea Cukai memang ibarat “satpam rumah” yang kadang membuat tamu merasa tidak nyaman karena pemeriksaan yang ketat. Namun, tanpa pemeriksaan tersebut, rumah kita—Indonesia—akan sangat mudah disusupi oleh ancaman dari luar seperti narkotika dari Malaysia, Thailand, hingga Spanyol.

Menyeimbangkan antara pelayanan yang ramah dan pengawasan yang ketat adalah tantangan besar. Namun melihat data 18,37 ton narkotika yang gagal masuk, mungkin kita perlu sedikit lebih bersabar saat paket belanjaan kita diperiksa. Karena di dalam sana, mereka mungkin sedang memastikan tidak ada “titipan maut” yang ikut terbawa.

Bagikan:
error: