Mimpi Hunian Nyaman yang Terendam Banjir di Desa Sukamekar

Mimpi Hunian Nyaman yang Terendam Banjir di Desa Sukamekar
Penampakan Perumahan Nebraska Terase di Desa Sukamekar, Sukawangi, Kabupaten Bekasi yang terdampak banjir, Sabtu 24 Januari 2026. (Foto: RRI/Leny Kurniawati)

BEKASI – Bagi Irham Anugrah, setiap lembar rupiah yang ia sisihkan selama bertahun-tahun adalah investasi untuk senyum istri dan anaknya. Namun, pada Jumat (23/1/2026), mimpi tentang rumah yang hangat dan aman itu mendadak dingin dan keruh. Air datang tanpa ketuk pintu, merendam Perumahan Nebraska Terase, Desa Sukamekar, Kabupaten Bekasi.

Banjir setinggi paha hingga leher orang dewasa itu bukan sekadar genangan air; bagi warga di sana, itu adalah pengkhianatan atas janji manis masa lalu.

“Janji Bebas Banjir” yang Menjadi Beban

Saat ditemui di Dapur Lapangan Brimob pada Sabtu (24/1/2026), Irham tampak lesu saat mengantre makanan. Pria yang tak pernah menunggak cicilan bulanan ini merasa terpukul. Ia membeli rumah dengan harapan masa depan, bukan kecemasan.

“Niat saya beli rumah supaya istri dan anak punya tempat tinggal layak. Tapi kenyataannya malah banjir begini. Jujur saya kecewa, kita sudah keluar banyak uang,” ucap Irham lirih.

Kekecewaan serupa menggema di penjuru Sukamekar Regency dan Grand Lavender. Milah Dini, warga Sukamekar Regency, tak lagi bisa menahan amarahnya. Baginya, banjir ini adalah alarm keras bagi pihak pengembang (developer) yang selama ini dianggap hanya mengejar keuntungan tanpa memikirkan mitigasi bencana.

“Developer jangan cuma mau untungnya saja. Pikirkan nasib warganya yang sudah membeli perumahan di sini,” ketus Milah. Ia bahkan secara terbuka meminta Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk turun tangan langsung melihat penderitaan mereka.

Rekor Terparah Banjir Sejak 2022

Bagi Farel Panggabean, penghuni Perumahan Grand Lavender, air yang masuk ke rumahnya kali ini adalah “tamu rutin” ketujuh sejak tahun 2022. Namun, Januari 2026 ini mencatatkan rekor kelam.

“Yang sekarang paling parah, sampai seleher orang dewasa,” ungkap Farel. Meski pihak pengembang sempat melakukan perbaikan, Farel menilai langkah tersebut hanya kosmetik belaka dan tidak menyentuh akar masalah drainase kawasan.

Hingga berita ini diturunkan, genangan air masih menyisakan trauma bagi warga Sukawangi. Di balik dinding-dinding rumah yang masih basah, tersisa satu pertanyaan besar yang belum terjawab: Sampai kapan janji hunian aman hanya berakhir menjadi slogan di brosur pemasaran? [bisot]

Bagikan:
error: