Universitas Paramadina Evaluasi Arah Pendidikan Tinggi Menuju Kampus Global

IMG 20251217 WA0164JAKARTA bekasitoday.com– Universitas Paramadina menggelar Diskusi Publik bertajuk “Evaluasi & Outlook Pendidikan Tinggi Riset Menuju Kampus Global” sebagai ruang refleksi kritis terhadap arah kebijakan pendidikan tinggi Indonesia di tengah ketatnya persaingan global. Kegiatan ini berlangsung di Jakarta, Selasa (16/12/2025), dengan menghadirkan pemangku kepentingan strategis dari unsur legislatif dan pimpinan perguruan tinggi nasional.

Diskusi tersebut dimoderatori oleh Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza Idris, dan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP selaku Ketua Komisi X DPR RI, Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D selaku Rektor Universitas Paramadina, Prof. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D Rektor Universitas Bakrie, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung, serta Prof. Andi Adriansyah, M.Eng.

Dalam pemaparannya, Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini menegaskan bahwa pendidikan tinggi Indonesia saat ini menghadapi krisis arah dan kualitas. Ia menyampaikan secara lugas bahwa dunia kampus nasional telah kehilangan momentum untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi, daya inovasi, serta kapasitas riset, sehingga semakin tertinggal dalam mengejar kualitas sumber daya manusia dibandingkan negara-negara tetangga.

Menurut Prof. Didik, kualitas perguruan tinggi memiliki korelasi langsung dengan daya saing ekonomi bangsa. Ia mengkritik praktik ekspansi masif perguruan tinggi negeri yang dinilai mengabaikan aspek kualitas. Bahkan, dalam beberapa kampus negeri ditemukan rasio dosen dan mahasiswa mencapai 1 banding 250, kondisi yang dinilai tidak sehat bagi ekosistem pendidikan tinggi.

Lebih lanjut, Prof. Didik menyoroti maraknya pembukaan kelas magister oleh perguruan tinggi negeri di Jakarta yang kerap tidak sejalan dengan peningkatan mutu akademik, melainkan lebih berorientasi pada penambahan pendapatan. Ia pun menyerukan agar orientasi perguruan tinggi negeri dikembalikan pada penguatan riset dan inovasi, bukan sekadar pengajaran massal.

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, menyoroti tiga isu utama pendidikan tinggi nasional, yakni ketersediaan akses, keterjangkauan biaya, serta kualitas perguruan tinggi yang masih terpusat di Pulau Jawa. Ia menekankan pentingnya transformasi perguruan tinggi Indonesia menjadi pusat inovasi sekaligus penggerak kemajuan ekonomi nasional.

Dari sudut pandang transformasi kelembagaan, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan tinggi berbasis strategi jangka panjang. Ia mendorong perguruan tinggi untuk bertransformasi menjadi kampus berdampak, yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam perumusan kebijakan publik dan penyelesaian persoalan masyarakat.

Pandangan kritis juga disampaikan oleh Prof. Andi Adriansyah terkait perangkingan global perguruan tinggi. Ia menilai fokus berlebihan pada indikator kuantitatif seperti jumlah publikasi dan sitasi telah menimbulkan distorsi dalam pengelolaan kampus. Menurutnya, paradigma pendidikan tinggi perlu bergeser dari sekadar mengejar global ranking menuju global relevance, yakni pengakuan dunia terhadap perguruan tinggi yang relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Diskusi publik ini menjadi penegasan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan tinggi nasional agar mampu melahirkan kampus-kampus Indonesia yang berkualitas, berdaya saing global, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.(Nr)

Bagikan:
error: