
BEKASI – Di sebuah sudut remang rumah yang separuh dindingnya telah berubah warna menjadi kecokelatan akibat rendaman air, Krisno THD menyeka layar ponselnya yang lembap. Di luar, suara kecipak air yang diaduk oleh dayung getek kayu menjadi satu-satunya musik latar yang tersisa. Dengan sisa daya di ponselnya, ia mengetikkan sebuah kalimat pendek yang merangkum segala keputusasaan: “Info banjir belum ada perubahan, 31 Januari 2026.”
Tepat 21 hari atau tiga minggu sejak air pertama kali masuk ke rumahnya di Kampung Tambun Sungai Angke, Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Namun, bagi Krisno dan ribuan warga lainnya di perbatasan Desa Segarajaya dan Desa Pahlawan Setia, waktu seolah berhenti berputar. Yang bergerak hanyalah debit air yang tidak menentu, sementara harapan untuk melihat aspal kering kian memudar.
Ironi “Sertifikat Banjir Terlama”
Kisah ini mulai mencuri perhatian publik saat Krisno mengunggah sebuah satire tajam pada 23 Januari lalu. Dengan diksi yang menggigit, ia menulis, “Alhamdulillah dapat Sertifikat Penghargaan. Sebagai Kampung Banjir Terlama Surut.”
Kata “sertifikat” di sini bukan tentang prestasi, melainkan sebuah argumentasi pahit atas pengabaian infrastruktur yang bertahun-tahun dirasakan warga. Krisno tidak sedang melucu; ia sedang melakukan protes kebudayaan. Baginya, kecepatan air yang masuk ke pemukiman berbanding terbalik dengan kecepatan pemerintah dalam memberikan solusi drainase.
Lima hari kemudian, tepat pada 28 Januari, Krisno kembali mengunggah potret transformasi paksa di lingkungannya. Jalanan yang biasanya menjadi urat nadi ekonomi, tempat motor menderu dan mobil melintas, kini telah “alih fungsi” menjadi dermaga dadakan. “Yang tadinya jalan motor/mobil sekarang jalan getek/perahu. Banjir hari ke-16. Mohon solusinya Kang Dedi Mulyadi,” tulisnya.
Penyebutan nama tokoh nasional Kang Dedi Mulyadi (KDM) tanpa melalui jalur formal birokrasi gubernur atau bupati, menunjukkan sebuah kejenuhan kolektif. Warga merindukan sosok yang dianggap punya gerak cepat dan sentuhan kemanusiaan di saat saluran birokrasi terasa macet sedalam sedimen di sungai mereka.

Genangan Air di Dua Desa
Banjir ini bukan sekadar genangan biasa. Berdasarkan pantauan lapangan, wilayah Tambun Sungai Angke kini menyerupai labirin raksasa yang mengunci dua desa sekaligus: Segarajaya dan Pahlawan Setia serta desa disekitarnya. Di RW 06 Dusun 3, Desa Pahlawan Setia, kondisinya menyedihkan. Air mencapai ketinggian 150 centimeter—setinggi dada pria dewasa. Di RW 05, air stabil menggenang di angka 80 hingga 100 centimeter.
Kompleks perumahan yang dulu dijanjikan sebagai hunian nyaman, seperti Perumahan Griya Rahmani, Leticia Mansion, Bumi Sakinah 2, hingga Villa Mutiara Mas 1 dan 2, kini terisolasi. Akses masuk terputus, membuat warga harus berpikir dua kali jika hendak menembus air kotor atau membayar sewa getek demi bisa beraktivitas.
Penyebabnya bukan rahasia lagi. Seperti yang dilansir dari Antara dan Media Indonesia, Syaifulloh HR, Ketua MUI Desa Pahlawan Setia yang juga menjadi saksi bisu penderitaan ini, menunjuk pada satu titik masalah: normalisasi yang mati suri.
“Saluran air menuju Segara Jaya sudah sangat dangkal. Sudah bertahun-tahun tidak dikeruk atau dinormalisasi. Karena salurannya macet, Tambun Sungai Angke ini jadi seperti tempat parkirnya air. Air dari mana-mana masuk ke sini, tapi tidak tahu jalan keluar,” ujar Syaifulloh dengan suara parau.
Pendidikan yang Karam dan Ancaman Wabah
Dampak banjir ini merambat hingga ke bilik-bilik kelas. MI Attaqwa 41, SMP Attaqwa 13, hingga SDIT Samba Taruma kini sepi dari riuh rendah suara siswa. Pendidikan terpaksa dilakukan secara daring. Namun, bagaimana anak-anak bisa belajar dengan tenang jika meja belajar mereka terapung dan sinyal ponsel sering terganggu akibat pemadaman listrik berkala demi keamanan?
Di sisi lain, masalah kesehatan mulai menghantui. Kulit warga, terutama anak-anak dan lansia, mulai mengeriput dan meradang akibat terendam air payau selama 21 hari. Penyakit gatal-gatal, kutu air, hingga demam mulai menjangkiti satu per satu warga di pengungsian mandiri.
“Pengobatan itu sangat penting sekarang. Banjirnya sudah terlalu lama. Kami butuh bantuan medis yang menjemput bola, karena untuk keluar mencari klinik saja kami harus menembus air setinggi pinggang,” tambah Syaifulloh.
Ekonomi warga pun lumpuh total. Mayoritas penduduk yang menggantungkan hidup sebagai petani dan pedagang kini hanya bisa menatap sawah mereka yang berubah menjadi hamparan laut cokelat. Modal yang tertanam di tanah kini tenggelam, menyisakan utang dan ketidakpastian tentang apa yang akan dimakan esok hari.
Mari Menjadi Jembatan Harapan untuk Tambun Sungai Angke
Kisah Krisno THD dan ribuan warga Tambun Sungai Angke adalah potret nyata tentang ketangguhan yang mulai retak. 21 hari bukanlah waktu yang singkat untuk hidup dalam kepungan air yang dingin dan kotor. Saat kita bisa tidur nyenyak di atas kasur yang kering, saudara-saudara kita di Tarumajaya harus terjaga setiap kali hujan turun, khawatir debit air kembali naik.
Mereka tidak butuh “Sertifikat Banjir Terlama”. Mereka butuh tangan kita untuk menyambung hidup. Saat ini, bantuan mendesak sangat dibutuhkan berupa:
- Paket Sembako dan Air Bersih: Untuk memenuhi kebutuhan pangan selama akses ekonomi masih terputus.
- Bantuan Medis dan Obat-obatan: Terutama obat penyakit kulit, salep antibakteri, dan penurun panas.
- Dukungan Advokasi: Untuk menyuarakan pentingnya normalisasi saluran air menuju Segara Jaya agar tragedi ini tidak menjadi “agenda tahunan”.
Sekecil apa pun kepedulian kita, akan menjadi tenaga bagi mereka untuk terus bertahan. Mari kita tunjukkan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi “parkiran air” ini.
Salurkan bantuan atau dukungan Anda melalui posko kemanusiaan terdekat atau melalui narahubung warga di Desa Pahlawan Setia dan Segarajaya. Setiap doa dan donasi kita adalah langkah awal untuk mengeringkan air mata di Tambun Sungai Angke dan Bekasi pada umumnya. [bisot]
