JAKARTA- bekasitoday.com– Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Albertus Wahyurudhanto, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan serius bagi dunia media, terutama menjelang kontestasi politik dan pemilu mendatang. Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Rapat Pimpinan Nasional Serikat Media Siber Indonesia di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Albertus menyoroti tiga ancaman utama dalam ekosistem informasi digital saat ini, yakni misinformation, disinformation, dan malinformation. Ia menjelaskan, misinformation adalah informasi salah yang disebarkan tanpa niat jahat, disinformation merupakan informasi salah yang sengaja diproduksi untuk menipu publik, sedangkan malinformation adalah informasi berbasis fakta yang digunakan untuk merugikan pihak lain, misalnya lewat pembocoran data pribadi.
“Ketiga hal ini punya dampak yang sangat buruk, yaitu merusak integritas demokrasi, memecah kohesi sosial, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap media maupun penyelenggara pemilu, “tegasnya.
Dalam paparannya, Albertus juga menyinggung evolusi dunia media dari model tradisional menuju sistem berbasis teknologi. Dari media cetak dan televisi yang terpisah, berkembang konsep cross media, hingga kini memasuki era digital yang sangat dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI kini dimanfaatkan media besar untuk memantau sumber informasi global, merangkum berita internasional, hingga membantu menentukan isu utama. Namun ia mengingatkan, penggunaan teknologi ini tetap harus diimbangi dengan verifikasi ketat.
“Algoritma bisa saja keliru. Karena itu verifikasi tetap menjadi kunci utama dalam kerja jurnalistik, “ujarnya.
Albertus menilai tantangan terbesar media menjelang pemilu adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan dan akurasi informasi. Tekanan mengejar trafik dan klik berpotensi memicu penyebaran berita yang belum terverifikasi. Ia juga menyoroti fenomena echo chamber di media sosial yang memperparah polarisasi politik, serta praktik manipulasi opini publik melalui akun robot, komentar otomatis, dan rekayasa konten audio-visual.
Di akhir pemaparannya, Albertus menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi.
“Media bukan sekadar penyampai informasi. Media adalah bagian dari infrastruktur politik yang menghubungkan figur politik dengan publik, “katanya.
Ia menekankan, media online kini menjadi penopang utama ruang publik, namun tetap harus menjaga etika jurnalistik.
“Tantangan media hari ini adalah menggabungkan kecepatan dengan akurasi, kreativitas dengan etika, serta kompetisi trafik dengan tanggung jawab publik, “pungkasnya.(Nr).
