Harga Batu Bara Dunia Kembali Tertekan

IMG 20260510 WA0041JAKARTA- bekasitoday.com– Pergerakan pasar energi global kembali memberi tekanan terhadap harga batu bara internasional pada penutupan perdagangan akhir pekan. Setelah sempat menguat tipis di tengah gejolak geopolitik, harga batu bara kini melemah seiring turunnya harga minyak mentah dunia dan meredanya ketegangan pasar energi.

Berdasarkan data perdagangan Refinitiv, Jumat (8/5/2026) harga batu bara ditutup di level US$134,45 per ton, turun sekitar 0,55 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan sejak awal pekan, meski sempat rebound tipis pada Kamis.

Pelaku pasar menilai terkoreksinya harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang menekan harga batu bara. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kini berada di kisaran US$95,52 per barel, sedangkan Brent turun ke level US$101,29 per barel. Padahal sebelumnya Brent sempat menembus US$114 per barel dan WTI di kisaran US$106 per barel.

Hubungan Batu Bara dan Minyak

Selama ini, batu bara dan minyak dikenal memiliki hubungan erat dalam perdagangan energi. Ketika harga minyak melonjak, permintaan batu bara biasanya ikut meningkat sebagai alternatif sumber energi. Sebaliknya, saat harga minyak terkoreksi, harga batu bara cenderung ikut melemah.

Fokus Pasar ke India dan China

Selain faktor minyak, perhatian pasar kini tertuju pada kondisi pasokan energi di India dan China.

– Coal India Ltd melaporkan produksi batu bara April 2026 turun 9,7 persen menjadi 56,1 juta ton, dibanding periode sama tahun lalu sebesar 62,1 juta ton. Penurunan ini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi India di tengah lonjakan kebutuhan listrik akibat gelombang panas ekstrem.

– China mencatat penurunan impor batu bara sebesar 14 persen secara tahunan menjadi 33,1 juta metrik ton pada April 2026. Meski demikian, perdagangan domestik mulai stabil pasca libur Hari Buruh, walau permintaan belum sepenuhnya pulih.

Prospek ke Depan

Pengamat energi menilai pasar batu bara global saat ini masih berada dalam fase penyesuaian setelah sebelumnya terdorong naik oleh tekanan geopolitik dan kekhawatiran pasokan. Fluktuasi harga diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, seiring perkembangan kondisi ekonomi global dan kebutuhan energi negara-negara industri utama.(Red).

Bagikan:
error: