Ekonom Nilai Ekonomi Syariah 2025 Bergerak ke Sektor Riil, Indonesia Kian Kokoh di Level Global

IMG 20251227 WA0054JAKARTA bekasitoday.com- Wakil Rektor Universitas Paramadina sekaligus Ekonom CSED INDEF, Dr. Handi Risza, memberikan tinjauan kritis sekaligus optimistis terhadap perjalanan ekonomi syariah Indonesia sepanjang tahun 2025. Dalam catatan akhir tahunnya, Handi menilai terjadi transformasi signifikan dari dominasi sektor keuangan menuju penguatan sektor riil dan industri halal.

Menurut Handi, perkembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional kini mulai bergerak ke arah yang lebih ideal. Jika sebelumnya lebih banyak ditopang oleh sektor keuangan, kini sektor riil mulai memainkan peran penting dalam arus utama perekonomian nasional.

“Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dimulai dan lebih didominasi oleh sektor keuangan, tetapi kini mulai bergerak menuju sektor riil dan arus utama perekonomian nasional. Sektor industri halal mulai memainkan peran penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, “ujar Handi dalam keterangan tertulisnya.

Ia menegaskan bahwa transformasi tersebut perlu terus dijaga agar pada tahun 2026, perkembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia tetap inklusif dan berkelanjutan. Handi juga melihat potensi besar pada tahun mendatang, khususnya dengan hadirnya Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) yang berada langsung di bawah Presiden.

Selain itu, peluang strategis juga terbuka melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didukung anggaran sebesar Rp335 triliun, yang dinilai dapat menjadi pengungkit kuat bagi industri halal nasional.

Dari sisi global, posisi Indonesia dinilai semakin kokoh. Handi memaparkan bahwa dalam laporan State of the Global Syariah Economy (SGIE) Report 2024/2025, Indonesia berhasil mempertahankan peringkat ketiga dunia dengan skor Global Islamic Economy Indicator (GIEI) sebesar 99,9, meningkat 19,8 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

“Capaian paling menonjol dalam SGIE 2024/2025 adalah keberhasilan Indonesia mencatat investasi halal tertinggi di dunia. Sebanyak 40 transaksi senilai USD 1,6 miliar terealisasi sepanjang 2023, mencakup sektor makanan halal, kosmetik, farmasi, teknologi halal, hingga gaya hidup Muslim, “ungkapnya.

Menurut Handi, capaian tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat investasi halal dunia.

Meski demikian, Handi mengingatkan masih adanya sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Ia menyoroti hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025 yang menunjukkan ketimpangan signifikan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah.

Data SNLIK mencatat literasi keuangan syariah telah mencapai 43,42 persen, namun tingkat inklusi keuangan syariah masih bertahan di angka 13,41 persen. Artinya, terdapat sekitar 30,01 persen masyarakat yang telah memahami keuangan syariah namun belum memanfaatkannya secara nyata.

“Perlu terobosan dan inovasi yang masif untuk mendekatkan informasi serta akses terhadap ekonomi dan keuangan syariah kepada masyarakat hingga ke daerah-daerah, “tegas Handi.

Ia berharap, dengan sinergi kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, ekonomi syariah Indonesia dapat tumbuh lebih merata dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan nasional ke depan.(Nr).

Bagikan:
error: