Gestur Menag RI di Vatikan Kirim Pesan Damai Dunia

IMG 20260103 WA0132JAKARTA bekasitoday.com- Di tengah dinamika global yang kerap diwarnai ketegangan dan klaim kebenaran sepihak, sebuah tindakan simbolis dari Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menarik perhatian komunitas internasional.

Momen ketika Menag RI memberikan penghormatan dengan mencium kepala dan tangan Paus Leo XIV, serta menyalakan Lilin Perdamaian di Roma, dinilai bukan sekadar bagian dari protokol diplomatik, melainkan mengandung pesan teologis yang mendalam tentang perdamaian dunia.

Peristiwa tersebut berlangsung dalam peringatan 60 tahun Dokumen Nostra Aetate, sebuah dokumen bersejarah Gereja Katolik yang menegaskan pentingnya dialog dan hubungan harmonis antarumat beragama. Acara ini dihadiri tokoh-tokoh lintas agama dunia di bawah naungan komunitas Sant’Egidio, yang selama ini dikenal aktif mendorong rekonsiliasi dan perdamaian global.

Kehadiran Menteri Agama RI sebagai salah satu tokoh yang dipercaya menyalakan Lilin Perdamaian dimaknai sebagai simbol posisi Indonesia yang konsisten mengedepankan dialog, toleransi, dan rekonsiliasi antarumat beragama di panggung internasional. Gestur tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dalam merawat keberagaman sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Aktivis Gereja Katolik dan pemerhati dialog lintas iman, Dar Edi Yoga, memberikan apresiasi tinggi atas sikap Menag Nasaruddin Umar. Menurutnya, tindakan tersebut menampilkan wajah agama yang lembut, rendah hati, dan sarat makna kemanusiaan. Penghormatan kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu dipandang sebagai pengakuan universal bahwa para pemimpin agama adalah pelayan kemanusiaan yang saling menghargai kebijaksanaan serta dedikasi satu sama lain.

Lebih jauh, Dar Edi menilai penyalaan Lilin Perdamaian di Roma merupakan simbol perlawanan terhadap kegelapan prasangka, kebencian, dan kekerasan. Di tengah krisis keteladanan global, keberanian Menag RI menunjukkan sikap santun dan penuh kasih menjadi pengingat bahwa iman sejati tidak lahir untuk memisahkan, melainkan untuk menyatukan umat manusia dalam kerja nyata demi perdamaian.

Pesan moral yang dibawa Indonesia melalui momen ini dinilai sangat kuat, yakni bahwa keberagaman bukanlah ancaman. Dar Edi Yoga menyimpulkan, iman tidak diukur dari kerasnya klaim kebenaran, tetapi dari kedalaman kemampuan untuk mencintai sesama. Cahaya kecil dari lilin yang dinyalakan di Vatikan pun menjadi simbol harapan, bahwa perdamaian dunia tetap mungkin diwujudkan melalui kerendahan hati dan dialog yang tulus.(Nr).

Bagikan:
error: