MEDAN- bekasitoday.com– Kemampuan berbahasa Mandarin kini tidak lagi menjadi satu-satunya modal untuk bersaing di dunia kerja yang semakin global. Di tengah meningkatnya hubungan dan interaksi antara Indonesia dan Tiongkok, generasi muda dituntut memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya yang mampu menjembatani perbedaan perspektif, budaya komunikasi, dan cara berpikir kedua negara.
Pesan tersebut disampaikan praktisi komunikasi, Wendelyn Leo, dalam workshop bertajuk “Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation” yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Prima Indonesia, Jumat (12/6/2026).
Dalam pemaparannya, Wendelyn menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam komunikasi lintas budaya sering kali bukan terletak pada kemampuan berbahasa, melainkan pada kemampuan memahami konteks, perspektif, serta ekspektasi dari pihak yang memiliki latar belakang berbeda.
“Banyak orang mengira kemampuan bahasa adalah tujuan akhir. Padahal di dunia profesional, bahasa hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan bahasa tersebut untuk membangun pemahaman, kepercayaan, dan hubungan antara pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda, “ujarnya.
Berbekal pengalaman sebagai jurnalis sebelum berkarier di bidang komunikasi korporat, Wendelyn mengungkapkan bahwa pemilihan kata dan cara menyampaikan pesan dapat memberikan dampak besar terhadap citra maupun reputasi individu dan organisasi. Melalui berbagai studi kasus internasional, para peserta diajak memahami proses penyusunan strategi komunikasi, mulai dari menentukan key message, memahami target audiens, membaca tren, menyusun narasi, hingga membangun hubungan dan kepercayaan dengan publik.
Menurutnya, mahasiswa yang menekuni bahasa Mandarin memiliki keunggulan tersendiri karena berada pada posisi yang memungkinkan mereka memahami dua lingkungan budaya yang berbeda sekaligus.
“Peran kalian bukan hanya menerjemahkan bahasa. Kalian juga bisa menjadi jembatan yang membantu kedua pihak saling memahami cara berpikir, cara berkomunikasi, dan ekspektasi yang berbeda. Kemampuan itulah yang semakin dibutuhkan di dunia kerja saat ini, “katanya.
Sementara itu, Sekretaris Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, Mei Lisa, mengatakan bahwa workshop tersebut diselenggarakan untuk memperkuat kompetensi mahasiswa di luar aspek kebahasaan.
Menurutnya, penguasaan bahasa yang baik harus diiringi dengan kemampuan komunikasi yang efektif agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan tepat oleh audiens.
“Bahasa adalah alat, tetapi komunikasi adalah dampaknya. Seseorang bisa fasih berbahasa Mandarin, tetapi tanpa kemampuan komunikasi yang baik, pesan yang disampaikan bisa kurang tepat, bahkan berisiko menimbulkan miskomunikasi. Karena itu, kemampuan bahasa saja tidak cukup. Mahasiswa perlu mampu menyampaikan pesan secara efektif, “ujarnya.
Mei Lisa menambahkan, mahasiswa Mandarin memiliki peran strategis sebagai penghubung budaya Indonesia dan Tiongkok. Peran tersebut tidak hanya sebatas menerjemahkan bahasa, tetapi juga menerjemahkan makna, nilai, serta cara berpikir yang berbeda guna mendukung komunikasi dan kerja sama lintas budaya yang semakin intens di berbagai sektor.
Melalui kegiatan ini, UNPRI berharap mahasiswa tidak hanya menjadi lulusan yang unggul dalam penguasaan bahasa Mandarin, tetapi juga mampu tampil sebagai komunikator profesional yang berperan aktif dalam membangun pemahaman dan kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok di era globalisasi.(Nr).
