KLUNGKUNG- bekasitoday.com– Arus modernisasi pariwisata di kawasan Nusa Penida sejatinya tidak mendapat penolakan dari masyarakat terkait rencana pengembangan fasilitas wisata di kawasan Pantai Kelingking. Warga lokal maupun pelaku industri pariwisata pada dasarnya mendukung hadirnya fasilitas modern yang dapat mempermudah wisatawan menikmati keindahan pantai ikonik tersebut.
Masyarakat menyadari bahwa akses jalan setapak menuju bibir Pantai Kelingking selama ini tergolong berat, melelahkan, dan memiliki tingkat risiko keselamatan yang tinggi. Karena itu, keberadaan fasilitas lift dinilai dapat menjadi solusi modern yang manusiawi sekaligus simbol kemajuan infrastruktur pariwisata Bali.
Namun demikian, persoalan utama yang kini memicu perhatian publik bukan terletak pada keberadaan lift itu sendiri, melainkan pada konsep desain dan tata ruang pembangunan yang direncanakan pihak pengembang. Desain lift kaca yang disebut-sebut akan menjorok jauh ke depan tebing dan menjulang tinggi dikhawatirkan berpotensi merusak estetika alam serta mengganggu garis pandang utama kawasan Kelingking yang selama ini menjadi ikon wisata dunia.
Masyarakat menilai Tebing Kelingking bukan sekadar objek wisata biasa, melainkan ruang publik yang selama ratusan tahun dapat dinikmati secara bebas oleh siapa saja. Panorama alam tersebut dianggap bukan milik korporasi ataupun hak eksklusif investor tertentu, melainkan warisan alam yang menjadi kebanggaan masyarakat luas.
Kekhawatiran publik semakin menguat karena desain pembangunan dinilai berpotensi mengubah ruang publik menjadi ruang privat yang dikendalikan kepentingan bisnis. Jika struktur bangunan beton dan tiang penyangga besar tetap dibangun sesuai rancangan awal, maka masyarakat maupun wisatawan yang berada di daratan dikhawatirkan tidak lagi bisa menikmati panorama Kelingking secara bebas karena terhalang bangunan.
Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa proyek tersebut bukan hanya bertujuan menyediakan akses turun-naik wisatawan, tetapi juga berpotensi mengarah pada penguasaan titik pandang terbaik atau best viewing point yang nantinya dapat dikomersialisasikan.
Sejumlah pihak menilai, apabila tujuan utama proyek benar-benar demi meningkatkan keselamatan dan kenyamanan wisatawan, maka konsep arsitektur lift sebenarnya dapat dibuat lebih sederhana dan ramah lingkungan. Struktur elevator dapat dirancang menempel pada dinding tebing atau menyatu dengan kontur alam sekitar sehingga fungsi aksesibilitas tetap berjalan tanpa merusak panorama utama kawasan.
Konsep pembangunan berbasis arsitektur hijau dinilai menjadi solusi yang lebih bijak agar modernisasi pariwisata tetap berjalan tanpa mengorbankan estetika alam maupun hak moral masyarakat lokal dalam menikmati ruang hidupnya sendiri.
Masyarakat Nusa Penida juga diingatkan agar memahami bahwa fasilitas modern memang dibutuhkan, tetapi jangan sampai kehadirannya justru menghilangkan kebebasan publik dalam menikmati keindahan alam yang diwariskan leluhur.
Pembangunan pariwisata yang sehat dinilai seharusnya memperkuat akses publik dan memberikan kenyamanan bagi wisatawan tanpa mempersempit ruang gerak masyarakat adat di tanah kelahirannya sendiri. Modernisasi yang inklusif harus mampu berjalan berdampingan dengan pelestarian lingkungan, nilai budaya, dan hak masyarakat lokal.
Sebab apabila Tebing Kelingking kehilangan panorama bebasnya akibat kepentingan investasi yang berlebihan, maka bukan hanya estetika alam Bali yang terancam rusak, tetapi juga martabat masyarakat adat yang selama ini menjaga kesucian kawasan tersebut.
Tebing Kelingking memang memerlukan sentuhan fasilitas modern, namun keindahan dan kebebasan alamnya dinilai tidak boleh dikorbankan hanya demi kepentingan bisnis segelintir pihak.(Nr).
