Refleksi Cinta di Era Digital

IMG 20260602 WA0046JAKARTA- bekasitoday.com- Fenomena haus validasi, budaya pencitraan, hingga ketakutan tertinggal tren atau FOMO dinilai menjadi tantangan baru dalam membangun hubungan sehat di era digital. Di tengah derasnya arus media sosial, masyarakat semakin dihadapkan pada relasi yang rapuh, instan, dan mudah dipengaruhi tren sesaat.

Persoalan ini mengemuka dalam Kajian Filsafat dan Agama 2026 Seri Kedua bertema “Hubbud-Dunya di Era Digital” yang diselenggarakan The Lead Institute Universitas Paramadina bersama MaHa Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation pada Jumat (29/5/2026). Diskusi yang dimoderatori Peneliti The Lead Institute, Nurma Komala, membedah konsep cinta melalui dua perspektif besar: pemikiran filsuf Madzhab Frankfurt Erich Fromm dan pandangan cendekiawan muslim Indonesia Nurcholish Madjid atau Cak Nur.

Perspektif Erich Fromm

Dosen Psikologi UMS, Yayah Khisbiyah, menjelaskan bahwa Fromm memandang cinta sebagai seni yang harus dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan secara sadar. Menurutnya, manusia modern sering kali lebih sibuk menjadi sosok yang layak dicintai daripada belajar mencintai secara tulus.

“Cinta bukan kepemilikan dan bukan pula hubungan transaksional, melainkan tindakan aktif yang ditandai oleh perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan terhadap orang lain, “ujar Yayah. Ia menilai budaya media sosial yang sarat pencitraan membuat hubungan antarmanusia rentan dangkal. Karena itu, cinta seharusnya dipahami sebagai energi sosial yang diwujudkan dalam kepedulian terhadap kelompok marjinal, masyarakat rentan, dan pelestarian lingkungan hidup.

Perspektif Nurcholish Madjid

Ketua The Lead Institute, Suratno Muchoeri, mengulas pemikiran Cak Nur yang menempatkan cinta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan atau taqarrub ilallah. Dalam pandangan Cak Nur, manusia perlu mewaspadai hubbud-dunya, yakni kecintaan berlebihan terhadap dunia dan simbol-simbolnya seperti harta, popularitas, serta kesenangan sesaat.

Suratno menilai fenomena tersebut kini menemukan bentuk baru di era digital melalui budaya flexing, kecanduan gawai, obsesi viralitas, dan kebutuhan berlebihan akan pengakuan publik. “Cinta bukan hanya urusan pribadi, tetapi energi moral dan spiritual yang membimbing manusia untuk lebih jernih, lembut, serta bertanggung jawab kepada sesama, “tegasnya.

Titik Temu Dua Perspektif

Baik Fromm maupun Cak Nur sama-sama menolak konsep cinta yang dangkal dan berpusat pada egoisme. Keduanya memandang cinta sebagai kekuatan aktif yang mampu membebaskan manusia, membangun kedewasaan, serta memperkuat solidaritas sosial.

Melalui kajian ini, The Lead Institute Paramadina mengajak masyarakat merefleksikan kembali makna cinta di tengah kehidupan digital yang kompleks. Cinta tidak seharusnya berhenti pada pencarian validasi, melainkan menjadi kekuatan yang mendorong lahirnya kepedulian sosial, tanggung jawab moral, dan kemanusiaan yang lebih luas.(Nr).

Bagikan:
error: