IFE 2026 Dorong Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Pengalaman dan Adaptasi Teknologi

Bagikan:

IMG 20260824 WA0030JAKARTA- bekasitoday.com– Pendidikan kewirausahaan dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan penguasaan teori bisnis. Perguruan tinggi dituntut mampu membentuk pola pikir, keberanian menangkap peluang, kemampuan beradaptasi, serta pengalaman nyata agar mahasiswa siap menghadapi ketidakpastian dunia usaha.

Gagasan tersebut mengemuka dalam International Forum for Entrepreneurship Educators (IFE) 2026 yang digelar Universitas Paramadina pada 19 Agustus 2026. Forum internasional bertema “Glocalizing Entrepreneurship Education: Cultivating Mindsets for a Sustainable Future” itu mempertemukan akademisi, pendidik, praktisi, pembuat kebijakan, serta mahasiswa dari Indonesia, Inggris, dan Vietnam.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menekankan bahwa pendidikan kewirausahaan harus bergerak dari ruang teori menuju pengalaman nyata. Menurutnya, pembentukan jiwa kewirausahaan membutuhkan proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa berani mencoba, berinovasi, serta mengubah pengetahuan menjadi tindakan.

Didik juga mendorong agar jejaring internasional yang terbentuk melalui IFE 2026 tidak berhenti pada forum seminar. Kerja sama tersebut diharapkan berlanjut dalam bentuk riset bersama, pertukaran dosen, publikasi ilmiah, hingga berbagai kolaborasi akademik lintas negara.

Keynote speaker dari Glasgow Caledonian University, Dr. Vasilios Stouraitis, turut menyoroti perlunya perubahan pendekatan dalam pendidikan kewirausahaan. Ia membedakan konsep entrepreneurship education dengan entrepreneurial education.

Menurutnya, pendekatan entrepreneurial education memiliki cakupan lebih luas karena tidak hanya mengajarkan mahasiswa bagaimana mendirikan bisnis, tetapi juga membangun kemampuan menghadapi ketidakpastian.

Mahasiswa perlu dibekali kemampuan mengenali peluang, melakukan eksperimen, membangun resiliensi, serta menciptakan nilai secara bertanggung jawab. Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan di tengah perkembangan teknologi yang cepat dan perubahan model bisnis.

Sementara itu, Prof. Dr. Gancar C. Premanto dari Universitas Airlangga memperkenalkan konsep Holistic Entrepreneur Ecosystem. Model ini terdiri atas empat subsistem utama, yakni sistem pembelajaran, ekosistem kemitraan, fasilitas pendukung, dan pengukuran hasil.

Ekosistem tersebut menggabungkan pembelajaran berbasis pengalaman dan proyek, mentoring dari alumni, keterlibatan praktisi, pemanfaatan platform digital, konsultasi bisnis, serta pengukuran prestasi mahasiswa melalui kompetisi tingkat nasional maupun internasional.

Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi calon entrepreneur.

AI dan Nilai Kemanusiaan

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI menjadi salah satu isu penting dalam forum tersebut. Dr. Angelina Nath Hanh Le dari University of Economics Ho Chi Minh City (UEH) mengaitkan perkembangan pendidikan kewirausahaan dengan evolusi pemasaran hingga konsep Marketing 7.0 yang semakin menempatkan empati, autentisitas, dan storytelling sebagai elemen penting.

Menurutnya, kemampuan AI menghasilkan berbagai keluaran secara cepat dan sempurna justru membuat unsur manusia semakin bernilai. Kreativitas yang memiliki sentuhan manusia, termasuk ketidaksempurnaan yang autentik, dapat menjadi pembeda ketika teknologi semakin mendominasi proses kreatif.

“Something real, something imperfect, is more important than something that looks very perfect, “ujarnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap kreativitas, empati, keaslian, dan hubungan antarmanusia dalam membangun bisnis.

Dari Universitas Paramadina, Adrian Azhar Wijanarko, MM, mengangkat persoalan lain yang masih menjadi tantangan bagi UMKM, yakni akses pembiayaan.

Menurut Adrian, persoalan pembiayaan UMKM tidak selalu disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan dana. Hambatan justru kerap berkaitan dengan aspek bankability. Sebagian pelaku UMKM belum memiliki agunan memadai, riwayat kredit, maupun pencatatan keuangan yang terdokumentasi dengan baik.

Kondisi tersebut membuat lembaga keuangan kesulitan menilai kelayakan usaha. Karena itu, integrasi data dinilai menjadi salah satu elemen penting untuk membuka akses pembiayaan sekaligus memperkuat inklusi keuangan UMKM.

Luncurkan Kelompok Riset Internasional

IFE 2026 juga ditandai dengan peluncuran International Research Group for Entrepreneurship & SME (IRGESME) yang diketuai Dr. Iyus Wiadi.

Kelompok riset tersebut diarahkan menjadi wadah pengembangan penelitian dan kolaborasi internasional di bidang kewirausahaan serta usaha mikro, kecil, dan menengah. Agenda yang dikembangkan mencakup riset bersama, publikasi ilmiah, pengajuan hibah, proyek buku, hingga berbagai bentuk kerja sama akademik lintas negara.

Kehadiran IRGESME memperkuat pesan bahwa pengembangan pendidikan kewirausahaan membutuhkan dukungan ekosistem riset. Dengan demikian, pengembangannya tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi juga pada temuan dan praktik yang relevan dengan perubahan ekonomi.

Pengusaha sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menekankan pentingnya membangun pendidikan kewirausahaan yang berorientasi pada tindakan.

Prinsip “Think global, act local” dinilai relevan untuk membentuk entrepreneur yang mampu membaca perkembangan global sekaligus memahami kebutuhan masyarakat di lingkungan sendiri.

Sandiaga juga mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk AI dan robotika, untuk mempercepat kreativitas, inovasi, serta pengembangan bisnis. Namun, teknologi menurutnya harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya.

Pandangan mengenai pentingnya jejaring juga disampaikan Ibnu Riyanto, Founder dan CEO Trusmi Group. Menurutnya, jejaring merupakan salah satu modal penting dalam mengembangkan bisnis.

“Memperluas network adalah salah satu strategi penting dalam membangun bisnis. Saya percaya, semakin luas kita berjejaring, semakin banyak kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, dan menemukan peluang baru, “ujar Ibnu.

Ia juga menyebut Sandiaga Uno sebagai salah satu sosok yang menjadi teladan dalam membangun bisnis sekaligus memperluas jejaring.

Rangkaian pembahasan dalam IFE 2026 pada akhirnya memperlihatkan adanya perubahan mendasar dalam cara pendidikan kewirausahaan dipandang. Kewirausahaan tidak lagi cukup ditempatkan sebagai satu mata kuliah atau sekadar kemampuan mendirikan perusahaan.

Lebih dari itu, kewirausahaan dipandang sebagai mindset yang dibutuhkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan, membaca peluang, mengelola risiko, dan menciptakan nilai.

Perguruan tinggi dituntut membangun ekosistem pendidikan yang interdisipliner, berbasis pengalaman, terhubung dengan industri dan masyarakat, serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi.

Di tengah ekspansi AI, forum tersebut sekaligus menegaskan bahwa kekuatan manusia justru semakin penting. Autentisitas, empati, kreativitas, dan kepercayaan menjadi nilai yang tidak mudah digantikan oleh teknologi.

Melalui IFE 2026, Universitas Paramadina tidak hanya menjadi ruang pertemuan akademisi dan praktisi lintas negara, tetapi juga membuka ruang kolaborasi untuk membentuk pendidikan kewirausahaan yang lebih adaptif, relevan, dan berorientasi pada masa depan.(Nr).


Bagikan:
error: