Demokrasi Harusnya Mengkoreksi, Bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

IMG 20260408 WA0005JAKARTA- bekasitoday.com– Di tengah tekanan global dan dinamika politik dalam negeri, wacana nasionalisme kembali menguat sebagai fondasi penting dalam menjaga arah bangsa. Hal ini disampaikan oleh Didi Mahardhika Sukarno yang menilai bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini tidak hanya berkutat pada persoalan ekonomi atau geopolitik, tetapi juga menyangkut praktik demokrasi yang mulai mengalami distorsi.

Sebagai cucu Soekarno, Didi menegaskan bahwa nasionalisme harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap praktik bernegara. Ia menyoroti adanya kecenderungan di mana demokrasi tidak lagi dijalankan sebagai alat koreksi yang sehat, melainkan berubah menjadi instrumen untuk mendelegitimasi pemerintahan.

“Demokrasi seharusnya mengoreksi, bukan meruntuhkan legitimasi negara, “ujar Didi, Selasa (7/4/2026). Menurutnya, kritik terhadap pemerintah memang merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun, ketika kritik tersebut tidak lagi bertujuan memperbaiki, melainkan melemahkan kepercayaan publik secara sistematis, maka yang terjadi adalah distorsi demokrasi.

Putra Rachmawati Soekarnoputri ini menilai praktik tersebut berpotensi membahayakan, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Polarisasi yang dipicu oleh delegitimasi politik dinilai dapat menggerus persatuan nasional sekaligus melemahkan posisi Indonesia di kancah internasional.

Lebih lanjut, Didi menekankan bahwa demokrasi Indonesia harus tetap berpijak pada nilai-nilai gotong royong, musyawarah, dan kepentingan bangsa. Ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh disalahgunakan hingga menciptakan ketidakstabilan politik.

Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Didi mendorong pentingnya narasi kebangsaan yang menyejukkan namun tetap tegas. Ia menilai Indonesia saat ini membutuhkan stabilitas politik yang ditopang oleh kritik konstruktif, bukan serangan yang melemahkan legitimasi negara.

Bagi Didi, nasionalisme tidak hanya dimaknai sebagai upaya menghadapi pengaruh eksternal, tetapi juga menjaga kohesi sosial di dalam negeri. Ia mengingatkan bahwa perjuangan menjaga Indonesia tidak berhenti pada momentum kemerdekaan, melainkan terus berlanjut dalam memastikan arah demokrasi tetap berada di jalur yang memperkuat, bukan melemahkan, bangsa.

Di tengah derasnya arus informasi dan kontestasi politik, pandangan Didi menjadi pengingat bahwa nasionalisme dan demokrasi sejatinya harus berjalan beriringan, saling menguatkan demi menjaga keutuhan serta masa depan Indonesia.(Nr).

Bagikan:
error: