JAKARTA- bekasitoday.com – Kabar mengenai rencana perombakan kabinet atau reshuffle di lingkungan pemerintahan kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Nama mantan Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior, Chatib Basri, disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk menggantikan posisi Purbaya Yudhi Sadewa.
Spekulasi pergantian kursi strategis tersebut berkembang di tengah berbagai tantangan ekonomi global yang dinamis serta tuntutan untuk memperkuat stabilitas fiskal nasional. Namun, di balik ramainya isu reshuffle, Pengamat Politik Samuel F Silaen menilai persoalan mendasar pengelolaan ekonomi nasional tidak terletak pada siapa sosok yang menduduki jabatan tersebut.
Menurut Silaen, tantangan utama yang dihadapi pemerintah saat ini adalah kondisi anggaran negara yang dinilai semakin berat akibat kebijakan fiskal yang cenderung memperbesar pengeluaran. Ia mengibaratkan situasi tersebut sebagai kondisi “lebih besar pasak daripada tiangnya”.
“Kalau pengeluaran negara terus diperbesar, siapa pun menterinya akan menghadapi beban yang sangat berat. Persoalannya bukan pada figur Purbaya atau Chatib Basri secara pribadi, “ujar Silaen.
Ia menegaskan bahwa arah dan kendali kebijakan ekonomi nasional sepenuhnya berada di tangan Presiden Prabowo Subianto sebagai pemegang otoritas tertinggi pemerintahan. Karena itu, keberhasilan maupun kegagalan pengelolaan fiskal tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang ditetapkan di tingkat kepemimpinan nasional.
Silaen bahkan mengutip peribahasa lama, “ikan busuk dari kepala, bukan ekornya”, untuk menggambarkan pentingnya keteladanan dalam pengambilan kebijakan. Menurutnya, jika kebijakan yang diterapkan di tingkat atas dinilai kontradiktif, maka jajaran di bawahnya akan cenderung mengikuti pola yang sama.
Selain itu, ia menyoroti meningkatnya pengeluaran negara yang disertai penambahan utang luar negeri sebagai faktor yang perlu mendapatkan perhatian serius. Kebijakan fiskal yang agresif dinilai memiliki risiko terhadap stabilitas keuangan negara dalam jangka panjang apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang hati-hati.
Di sisi lain, Silaen mengakui bahwa Chatib Basri memiliki reputasi yang kuat di kalangan pasar keuangan internasional. Pengalamannya saat menjabat Menteri Keuangan pada periode 2013–2014 kerap dianggap sebagai modal penting untuk menjaga kepercayaan investor dan menghadapi gejolak ekonomi global.
Meski demikian, ia berpandangan bahwa persoalan yang dihadapi ekonomi Indonesia saat ini lebih banyak berasal dari faktor internal pemerintahan daripada tekanan eksternal. Karena itu, pemerintah diminta tidak terus-menerus menjadikan kondisi ekonomi global sebagai alasan utama atas berbagai tantangan yang muncul.
“Hambatan terbesar justru berasal dari dalam. Jangan semua persoalan ekonomi selalu dikaitkan dengan faktor luar negeri, “tegasnya.
Silaen juga menilai baik Purbaya Yudhi Sadewa maupun Chatib Basri merupakan figur yang memiliki kapasitas dan kompetensi tinggi di bidang ekonomi. Namun, menurutnya, intervensi politik serta berbagai tekanan dalam pemerintahan sering kali menjadi kendala yang membuat kinerja para pejabat ekonomi tidak dapat berjalan optimal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana Negara maupun instansi terkait belum memberikan pernyataan resmi mengenai kebenaran isu reshuffle tersebut. Sementara itu, Purbaya Yudhi Sadewa masih tercatat aktif menjalankan agenda kedinasan sebagaimana biasa.
Publik dan pelaku pasar kini menunggu kepastian dari pemerintah terkait rumor pergantian posisi tersebut. Silaen menegaskan bahwa upaya pemulihan dan penguatan ekonomi nasional tidak dapat dibebankan kepada seorang menteri keuangan semata, melainkan harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh jajaran kabinet sebagai pembantu presiden.(Nr).
