
KUPANG NTT- bekasitoday.com– Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menunjukkan gaya kepemimpinan yang sederhana dan membumi dengan berjalan kaki dari Rumah Jabatan menuju Kantor Gubernur NTT di Jalan El Tari, Oebobo, Kupang, Selasa (14/4/2026) siang.
Mengenakan kemeja dinas sederhana tanpa pengawalan ketat, Melki-sapaan akrabnya-menempuh jarak sekitar 1 hingga 1,5 kilometer di tengah aktivitas lalu lintas kota. Sepanjang perjalanan, ia tampak santai, sesekali tersenyum dan menyapa warga yang terkejut melihat orang nomor satu di NTT berjalan kaki di bawah terik matahari.
Aksi tersebut bukan sekadar simbolik. Melki menegaskan, kebiasaan berjalan kaki merupakan bagian dari komitmen pribadinya dalam menjaga kebugaran di tengah padatnya aktivitas sebagai kepala daerah.
“Kalau bisa dilakukan dua sampai tiga kali dalam seminggu, ini bagus untuk kesehatan,” ujarnya di sela perjalanan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan tanpa harus menunggu kondisi ideal.
“Olahraga tetap penting, meskipun dilakukan di siang hari, “tambahnya.
Lebih dari sekadar aktivitas fisik, langkah sederhana ini juga mencerminkan pesan efisiensi dan kepemimpinan yang responsif terhadap kondisi saat ini. Di tengah tekanan ekonomi global dan meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM), aksi berjalan kaki dinilai sebagai simbol penghematan energi serta penggunaan fasilitas negara secara bijak.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi NTT telah menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat sejak 10 April 2026, sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat untuk menekan konsumsi BBM. Dalam konteks tersebut, Melki menilai penting bagi seorang pemimpin untuk memberi contoh langsung kepada masyarakat.
“Dengan berjalan kaki, kita juga bisa memberikan contoh bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus bergantung pada fasilitas negara, “ujarnya.
Langkah ini pun menuai beragam respons dari masyarakat. Sebagian menilai aksi tersebut sebagai penyegaran di tengah pola kepemimpinan yang kerap identik dengan pengawalan ketat dan konvoi kendaraan. Sementara itu, lainnya melihatnya sebagai teladan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana.
Melalui pendekatan kepemimpinan yang membumi, Gubernur Melki menunjukkan bahwa efektivitas birokrasi tidak selalu diukur dari kemewahan fasilitas, melainkan dari kedekatan pemimpin dengan realitas masyarakat. Meski tidak dilakukan setiap hari, kebiasaan ini diharapkan dapat menginspirasi ASN dan masyarakat NTT untuk menerapkan pola hidup sehat, hemat energi, serta lebih peduli terhadap lingkungan.
Di tengah dinamika pemerintahan, langkah kaki seorang gubernur menjadi pesan kuat bahwa kepemimpinan sejati terletak pada keteladanan.(Red).
