PHSS Buktikan Lapangan Migas Mature Masih Berpotensi, Produksi SEM-206 dan SEM-207 Lampaui Target

Bagikan:

IMG 20260829 WA0017KALIMANTAN TIMUR- bekasitoday.com– Pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas) yang telah memasuki fase mature kembali menunjukkan peluang peningkatan produksi. PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) mencatat hasil uji produksi positif dari dua sumur pengembangan baru, yakni SEM-206 dan SEM-207, di Struktur Semberah, Wilayah Kerja Sanga-Sanga, Kalimantan Timur.

Menariknya, kedua sumur tersebut tidak hanya berhasil berproduksi, tetapi juga mencatat capaian di atas target awal. Hasil uji produksi menunjukkan SEM-206 menghasilkan 5,3 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dan 706 barel kondensat per hari (BCPD), atau sekitar dua kali lipat dari target awal.

Sementara itu, sumur SEM-207 mencatat produksi sebesar 3,11 MMSCFD gas dan 103 BCPD kondensat. Capaian tersebut sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan sebelumnya.

Kedua sumur juga mampu mengalir secara natural melalui mekanisme open flow. SEM-206 ditopang tiga lapisan reservoir dengan tekanan yang masih baik, sedangkan SEM-207 mengandalkan satu lapisan reservoir dengan kondisi tekanan yang mendukung aliran produksi.

Lapangan Mature Masih Menyimpan Potensi

Keberhasilan tersebut memiliki arti lebih luas bagi industri hulu migas. Lapangan yang memasuki fase mature umumnya menghadapi tantangan berupa penurunan produksi alamiah, karakter reservoir yang semakin kompleks, serta kebutuhan investasi yang semakin selektif.

Karena itu, pengembangan lapangan tidak cukup hanya mengandalkan pengeboran sumur baru. Pemahaman terhadap karakter reservoir, pemilihan teknologi, pengendalian risiko hingga perencanaan operasi menjadi faktor penting untuk memastikan setiap investasi memberikan tambahan produksi secara optimal.

General Manager Zona 9 PHSS, Dadang Soewargono, mengatakan pengembangan lapangan mature tetap menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga keberlanjutan produksi migas.

Menurutnya, pengeboran sumur baru diarahkan untuk menambah cadangan, meningkatkan recovery, menahan laju penurunan produksi alamiah, sekaligus mempertahankan tingkat produksi lapangan.

“Setiap sumur memiliki karakteristik dan tantangan teknis yang berbeda. Karena itu, kami melakukan evaluasi teknis dan pengelolaan risiko secara menyeluruh sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan pengeboran dan uji produksi, “ujar Dadang.

Teknologi Dorong Efisiensi Pengeboran

Dalam pengembangan SEM-206, PHSS menerapkan sejumlah strategi teknis, termasuk penggunaan peralatan komplesi dan kepala sumur dengan pressure rating tinggi serta teknologi Casing While Drilling (CWD).

Teknologi tersebut digunakan untuk membantu menjaga stabilitas lubang sumur sekaligus mendukung efektivitas kegiatan pengeboran.

SEM-206 juga dibor lebih ke arah timur dari struktur eksisting sebagai bagian dari strategi pengembangan reservoir. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan lapangan lama tidak sekadar mencari lokasi pengeboran baru, tetapi juga mengoptimalkan potensi reservoir yang masih tersedia di sekitar struktur produksi.

Dari sisi waktu pengerjaan, SEM-206 membutuhkan 45 hari sejak pengeboran hingga uji produksi. Adapun SEM-207 mampu diselesaikan hanya dalam 13 hari.

Perbedaan durasi tersebut berkaitan dengan karakteristik reservoir dan tantangan teknis pada masing-masing lokasi. Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya kemampuan menyesuaikan strategi pengeboran dengan kondisi bawah permukaan.

Dalam kegiatan hulu migas, efisiensi waktu operasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keekonomian proyek, terutama ketika pengembangan dilakukan pada lapangan yang telah berproduksi.

Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas

Di balik capaian produksi yang melampaui target, aspek keselamatan juga menjadi parameter penting. PHSS mencatat SEM-206 mencapai 75.600 jam kerja selamat (safe man-hours), sedangkan SEM-207 mencapai 27.216 jam kerja selamat hingga tahapan uji produksi.

Capaian tersebut menegaskan bahwa keberhasilan proyek hulu migas tidak hanya diukur berdasarkan volume produksi. Keselamatan pekerja, keandalan fasilitas dan kepatuhan terhadap prosedur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan operasi.

Selain itu, realisasi biaya pengeboran kedua sumur tercatat berada di bawah anggaran. Kombinasi antara produksi yang melampaui target, efisiensi waktu, keselamatan kerja dan pengendalian biaya menjadi indikator penting dalam melihat keekonomian pengembangan sumur.

Dadang menilai hasil tersebut membuktikan bahwa tantangan di lapangan mature dapat dijawab melalui perencanaan, inovasi dan penerapan teknologi yang tepat.

“Keberhasilan pengeboran, efisiensi biaya, dan kinerja keselamatan menunjukkan bahwa tantangan di lapangan mature dapat dijawab melalui perencanaan yang matang, inovasi, teknologi, dan eksekusi yang disiplin, “katanya.

Sanga-Sanga dan Ketahanan Energi

Tambahan produksi dari sumur pengembangan juga memiliki arti strategis dari perspektif ketahanan energi. Pengembangan lapangan eksisting memungkinkan perusahaan mempertahankan produksi dari aset yang telah memiliki infrastruktur dan sejarah produksi, sembari terus mencari peluang peningkatan recovery.

Strategi tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan menjaga kesinambungan produksi migas nasional.

Wilayah Kerja Sanga-Sanga merupakan salah satu wilayah kerja migas penting di Kalimantan Timur. Optimalisasi potensi melalui pengeboran sumur baru dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kontribusi produksi migas dari wilayah Kalimantan.

Keberhasilan SEM-206 dan SEM-207 memberikan gambaran bahwa lapangan yang telah memasuki fase mature belum tentu kehilangan seluruh potensinya. Dengan kombinasi pemahaman reservoir, teknologi dan investasi yang tepat, peluang produksi baru masih dapat dibuka.

Tantangan Berikutnya Menjaga Produksi

Meski hasil uji produksi menunjukkan capaian positif, pekerjaan belum berhenti. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan tingkat produksi tersebut secara berkelanjutan, mengelola penurunan produksi alamiah dan memastikan keandalan fasilitas dalam jangka panjang.

Produksi awal yang tinggi memang menjadi indikator positif, tetapi keberlanjutan produksi tetap membutuhkan pengelolaan reservoir, pemeliharaan fasilitas serta evaluasi teknis secara berkala.

PHSS sebagai bagian dari Zona 9 PT Pertamina Hulu Indonesia terus menjalankan kegiatan hulu migas di Wilayah Kerja Sanga-Sanga dengan mengedepankan keselamatan, efisiensi, keandalan operasi dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Dari Semberah, keberhasilan dua sumur tersebut memberikan pesan bahwa lapangan migas yang telah berumur masih memiliki ruang untuk dikembangkan.

Kuncinya bukan semata-mata mengebor lebih banyak sumur, melainkan menemukan cara yang tepat untuk mengubah potensi reservoir menjadi produksi yang aman, efisien dan berkelanjutan.

Bagi ketahanan energi Indonesia, setiap tambahan produksi yang mampu dipertahankan secara konsisten memiliki arti strategis, terlebih ketika produksi tersebut berasal dari aset yang telah lama menjadi bagian dari sistem energi nasional.(Nr).


Bagikan:
error: