Umat Paroki Santo Fransiskus Asisi Tuntut Kejelasan Dana Hilang

RANTAU PRAPAT- bekasitoday.com– Tangis dan kekecewaan kembali mewarnai aksi ratusan umat Paroki Santo Fransiskus Asisi Aek Nabara yang turun ke jalan mendatangi kantor Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Rantau Prapat. Mereka menuntut kejelasan atas nasib dana simpanan melalui Credit Union (CU) paroki yang hingga kini belum jelas keberadaannya.

Dana Rp21 Miliar Hilang Tanpa Jejak

Dari total sekitar Rp28 miliar yang diduga digelapkan, sekitar Rp21 miliar hingga kini tidak diketahui alirannya. Bagi umat, dana tersebut bukan sekadar angka, melainkan hasil kerja keras bertahun-tahun di ladang, sawah, dan pasar. Harapan untuk pendidikan anak serta masa depan keluarga kini berubah menjadi kecemasan yang tak berujung.

Kuasa hukum dari Kantor Advokat Gani Djemat & Partners, Bryan Roberto Mahulae, S.H., M.H., menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk kekecewaan mendalam terhadap sikap BNI yang dinilai tidak menunjukkan itikad baik.

“Bapak ibu datang dengan damai, tanpa provokasi. Tapi kekecewaan ini nyata. Dana itu bukan sekadar uang, tapi masa depan, “ujarnya di tengah massa.

Ia menambahkan, ketiadaan informasi resmi terkait sisa Rp21 miliar yang hilang merupakan bentuk pengabaian terhadap hak nasabah.

Frater paroki, Fritz Prasetyo, menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa disederhanakan sebagai kesalahan individu semata.

“Ini bukan sekadar ulah oknum. Ada persoalan sistemik yang membuat praktik ini bisa berjalan bertahun-tahun tanpa terdeteksi, “tegasnya.

Menurutnya, lemahnya pengawasan internal telah berdampak besar pada umat yang mayoritas berasal dari kalangan kecil. /

Proses Hukum dan Harapan Umat

Informasi terbaru menyebutkan pimpinan BNI Cabang Rantau Prapat tengah diperiksa di Polda Sumatera Utara. Namun bagi umat, proses hukum itu belum menjawab pertanyaan paling mendasar: ke mana Rp21 miliar uang mereka pergi?

Kuasa hukum memastikan perjuangan tidak akan berhenti. Selain jalur hukum, berbagai upaya akan ditempuh untuk menekan pihak BNI agar bertanggung jawab. Sementara itu, umat terus menunggu jawaban, di tengah kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda.(Red).

Bagikan:
error: