Kadensus 88 Tekankan Perlindungan Anak dan Literasi Digital

IMG 20260521 WA0118JAKARTA- bekasitoday.com– Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Irjen Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K., menegaskan pentingnya memperkuat perlindungan anak, literasi digital, serta deteksi dini berbasis kolaborasi dalam menghadapi dinamika ruang digital yang terus berkembang. Pesan tersebut disampaikan dalam bedah buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” pada 20 Mei 2026.

Dalam paparannya, Kadensus 88 menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru, terutama bagi anak dan remaja yang berada pada fase pencarian identitas.

“Anak dan remaja berada pada fase pencarian identitas. Karena itu, penguatan literasi digital, ketahanan psikologis, dan lingkungan sosial yang sehat menjadi bagian penting agar mereka mampu menghadapi berbagai pengaruh di ruang digital secara lebih kritis dan sehat, “ujar Sentot Prasetyo.

Menurutnya, pendekatan terhadap anak yang terpapar persoalan digital harus mengedepankan perlindungan, rehabilitasi, dan pendampingan, bukan semata penindakan.

Hasil Pemetaan Densus 88

Berdasarkan asesmen, kerentanan anak di ruang digital dipengaruhi oleh:

Krisis identitas

– Keterasingan sosial

– Perundungan

– Kebutuhan penerimaan sosial

Kadensus menegaskan bahwa data tersebut harus menjadi dasar memperkuat sistem perlindungan, bukan membangun stigma terhadap anak.

Collaborative Approach

Densus 88 mendorong pendekatan kolaboratif dengan melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah, akademisi, komunitas, platform digital, dan masyarakat. Pendekatan ini diwujudkan melalui:

Literasi digital

– Deteksi dini berbasis multi-stakeholder

– Ecological prevention yang melibatkan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial

Program pencegahan juga diperkuat melalui Pendidikan Kritis dan Ketahanan Digital, edukasi di sekolah, serta penguatan kapasitas guru dan orang tua sebagai garda terdepan.

Pandangan Para Pakar

Bedah buku ini juga menghadirkan akademisi lintas disiplin:

Dr. Zora Arfina Sukabdi: menekankan perlindungan anak yang mengalami alienasi sosial dan kehilangan makna.

– Prof. Harkristuti Harkrisnowo: mengingatkan bahwa pencegahan harus berbasis hak asasi manusia dan bukti ilmiah.

– Dra. Adityana Kasandra Putranto: menyoroti pentingnya kesehatan mental dan ketahanan psikologis.

– Dr. Ismail Fahmi: menekankan edukasi publik dan deteksi dini berbasis data.

Menutup paparannya, Kadensus 88 menegaskan bahwa tujuan utama berbagai upaya ini adalah membangun lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.

“Tujuan akhirnya bukan menciptakan rasa takut, tetapi membangun kesadaran bersama agar anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan memiliki ketahanan menghadapi tantangan era digital, “tutup Sentot Prasetyo.(Nr).

Bagikan:
error: