Asstra Panglima TNI: Industri Propelan dan Munisi Jadi Kunci Kemandirian Pertahanan Indonesia

IMG 20260706 WA0000JAKARTA- bekasitoday.com– Asisten Strategis (Asstra) Panglima TNI, Marsda TNI Budhi Achmadi, menegaskan bahwa pembangunan industri propelan dan munisi nasional merupakan langkah strategis dalam memperkuat kemandirian pertahanan Indonesia di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global dan perubahan karakter peperangan modern.

Menurut Budhi, arah kebijakan pertahanan yang menjadi perhatian serius pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencerminkan visi jangka panjang dalam membangun kekuatan pertahanan nasional yang tidak hanya bertumpu pada kepemilikan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga pada kemampuan memproduksi instrumen tempur utama secara mandiri.

“Perang modern telah mengubah cara negara membangun kekuatan militernya. Jika pada masa lalu pembangunan industri pertahanan identik dengan pengadaan platform militer, pengalaman berbagai konflik global menunjukkan bahwa kemenangan justru sangat ditentukan oleh kemampuan memproduksi amunisi, propelan, bom, roket, rudal, dan material energetik secara berkelanjutan, “ujar Budhi, Minggu (5/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa kapal perang, pesawat tempur, kendaraan tempur, maupun berbagai sistem persenjataan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai wahana penghantar daya tempur. Efektivitas seluruh platform tersebut sangat bergantung pada ketersediaan amunisi yang dapat diproduksi secara berkesinambungan.

Budhi mengingatkan bahwa hingga kini masih banyak negara bergantung pada pasokan propelan, bahan peledak, dan amunisi dari luar negeri. Ketergantungan tersebut memang tidak terlalu terasa pada masa damai, namun akan berubah menjadi kerentanan strategis ketika terjadi perang, konflik regional, maupun embargo internasional.

“Ketergantungan itu mungkin tidak terasa saat damai. Namun ketika perang, konflik regional, atau embargo terjadi, kelemahan tersebut berubah menjadi kerentanan strategis yang dapat melumpuhkan kemampuan tempur, “tegasnya.

Sebagai gambaran, Budhi menyoroti konflik Rusia-Ukraina yang menunjukkan bahwa kapasitas industri amunisi menjadi faktor vital dalam menjaga keberlangsungan operasi militer. Ribuan kendaraan tempur, artileri, hingga pesawat nirawak tidak akan mampu beroperasi secara optimal apabila pasokan amunisi terus menipis.

Kondisi tersebut bahkan mendorong negara-negara anggota NATO meningkatkan kapasitas produksi amunisi secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan konflik yang berlangsung berkepanjangan.

“Perang modern kembali menjadi perang industri. Ketika stok peluru artileri berkurang, intensitas operasi militer pun ikut menurun. Karena itu, banyak negara kini memperbesar kapasitas produksi amunisinya, “jelas Budhi.

Berkaca dari pengalaman tersebut, ia menilai Indonesia harus mempercepat pembangunan industri pertahanan yang berorientasi pada penguasaan teknologi propelan, bahan peledak, dan munisi sebagai inti kekuatan tempur nasional.

Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap sektor tersebut merupakan terobosan penting yang akan mengurangi ketergantungan terhadap impor berbagai komponen strategis pertahanan.

“Kemandirian pertahanan tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemampuan membangun kapal perang, pesawat tempur, kendaraan tempur, maupun sistem elektronika. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan memproduksi sendiri propelan, bahan peledak, amunisi, roket, dan rudal sebagai instrumen pemukul utama pertahanan negara, “katanya.

Budhi menambahkan, pembangunan industri propelan dan munisi tidak hanya memberikan dampak positif bagi sektor pertahanan, tetapi juga akan menjadi penggerak kemajuan berbagai bidang teknologi nasional, mulai dari industri kimia, metalurgi, material maju, manufaktur presisi hingga teknologi propulsi.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, TNI, industri pertahanan, perguruan tinggi, hingga lembaga penelitian untuk membangun ekosistem industri material energetik nasional yang terintegrasi.

“Ke depan, pembangunan industri pertahanan Indonesia perlu diarahkan secara konsisten pada pembentukan ekosistem material energetik yang utuh, mulai dari bahan baku strategis, propelan, bahan peledak militer, industri munisi, hingga pengembangan teknologi roket dan rudal nasional. Sinergi seluruh pihak menjadi syarat utama agar agenda ini berjalan secara berkelanjutan, “ungkapnya.

Mengakhiri pandangannya, Budhi menegaskan bahwa sejarah peperangan membuktikan kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan alutsista, melainkan oleh kemampuan suatu negara menjaga kesinambungan pasokan amunisi sebagai penopang utama daya tempur.

“Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh platform yang modern, tetapi oleh kemampuan menjaga daya tempur melalui pasokan amunisi, propelan, dan instrumen pemukul utama secara berkesinambungan. Karena itu, perhatian pemerintahan Presiden Prabowo terhadap pembangunan industri propelan dan munisi merupakan langkah strategis yang visioner. Kebijakan ini menjadi fondasi penting bagi kedaulatan pertahanan Indonesia dalam menghadapi tantangan geopolitik abad ke-21, “pungkasnya.(Nr).

Bagikan:
error: