Universitas Paramadina Dorong Masyarakat Cerdas Kelola Keuangan dan Lindungi Data Pribadi di Era Digital

IMG 20260903 WA0034JAKARTA- bekasitoday.com– Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat mengakses dan menggunakan layanan keuangan. Berbagai aktivitas, mulai dari transaksi, pembayaran, pembiayaan hingga layanan finansial lainnya, kini dapat dilakukan dengan mudah melalui perangkat digital.

Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak serta kesadaran untuk menjaga keamanan data pribadi. Hal tersebut menjadi perhatian dalam Open House Universitas Paramadina bertajuk “Cerdas Finansial di Era Digital: Membangun Literasi Keuangan & Melindungi Data Pribadi”, yang digelar Selasa (1/9) di Aula Prof. Firmanzah, Gedung Nurcholish Madjid, Kampus Cipayung, Universitas Paramadina.

Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai tantangan pengelolaan keuangan serta risiko keamanan data di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial dan transaksi digital.

Direktur Pemasaran dan Beasiswa Universitas Paramadina, Dr. Peni Hanggarini, mengatakan tema kegiatan tersebut selaras dengan tiga pilar Universitas Paramadina, yakni keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.

Menurut Peni, nilai keislaman mengajarkan masyarakat untuk mengelola keuangan secara bijak dan amanah. Sementara pilar keindonesiaan mendorong terbentuknya warga digital yang bertanggung jawab, sedangkan kemodernan mengajarkan bagaimana teknologi dimanfaatkan secara aman dan cerdas.

“Ketiga pilar tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sekadar nilai yang perlu dipelajari, “ujar Peni.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mampu mendorong peserta membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut antara lain mengelola keuangan secara bijak, menjaga data pribadi, serta menggunakan teknologi dengan penuh tanggung jawab.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina, Permata Dian Pratiwi, S.E., M.Sc., menegaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami berbagai produk keuangan.

Menurutnya, literasi keuangan juga mencakup kemampuan menerapkan kebiasaan finansial yang sehat, mengelola uang secara tepat, serta melindungi informasi pribadi.

“Akses terhadap produk keuangan sudah semakin luas, tetapi kemampuan menggunakan produk tersebut secara tepat harus terus diperkuat, “kata Permata Dian.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang cerdas mengelola keuangan, bijak memanfaatkan teknologi, sekaligus mampu menjaga keamanan data.

Peran tersebut, lanjutnya, dapat diwujudkan melalui pendidikan, kurikulum, penelitian, pengembangan ekosistem kampus yang aman secara digital, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa menjadi salah satu kelompok strategis karena mereka kelak akan menjadi pengambil keputusan keuangan. Karena itu, literasi keuangan harus diwujudkan dalam perilaku nyata, mulai dari kebiasaan menabung, memperoleh dan menggunakan pendapatan, meminjam, berinvestasi, merencanakan keuangan, hingga melindungi aset dan informasi pribadi.

Dari sisi industri pembiayaan, Deputy Director Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Sri Haryati, menjelaskan bahwa perusahaan pembiayaan menyediakan fasilitas untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan barang maupun jasa, baik untuk kepentingan produktif maupun konsumtif.

Meski demikian, kemudahan pembiayaan digital harus diikuti dengan perhitungan kemampuan membayar. Masyarakat diingatkan agar tidak menjadikan kemudahan akses pembiayaan sebagai alasan untuk mengambil pinjaman tanpa mempertimbangkan kewajiban finansial.

“Pembiayaan harus digunakan secara bijak. Pastikan kemampuan membayar angsuran dan jaga sejarah kredit yang tercatat di SLIK, “ujarnya.

Sri juga mengingatkan masyarakat agar mengambil pembiayaan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Konsumen juga diminta menggunakan data pribadi yang benar serta tidak meminjamkan data pribadi kepada pihak lain.

Senada dengan hal tersebut, Corporate Secretary, Investor Relations & Sustainability Head PT Bussan Auto Finance, Akmal Abudiman, menekankan bahwa perlindungan data pribadi merupakan bagian penting dari literasi keuangan digital.

Menurut Akmal, kehilangan perangkat digital tidak hanya berarti kehilangan sebuah barang, tetapi juga dapat membuka risiko terhadap keamanan uang, identitas, maupun reputasi pengguna.

“Perlindungan data pribadi menjadi bagian penting dalam literasi keuangan digital, “katanya.

Kegiatan yang dimoderatori Dr. Didip Diandra, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina, tersebut sekaligus memperkuat komitmen kampus dalam membangun masyarakat yang memiliki kecakapan finansial dan digital.

Universitas Paramadina terus mendorong perguruan tinggi sebagai center of financial & digital literacy melalui integrasi pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kemitraan.

Sejumlah penelitian dosen Universitas Paramadina juga menunjukkan adanya keterkaitan antara literasi keuangan, gaya hidup, perilaku keuangan, financial technology, dan perlindungan data pribadi.

Melalui kegiatan tersebut, Universitas Paramadina menegaskan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya menghadirkan akses terhadap teknologi dan layanan keuangan. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan, sikap kritis, perilaku finansial yang sehat, serta keterampilan dalam melindungi informasi pribadi.

Dengan demikian, kemudahan layanan keuangan di era digital diharapkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa menghadirkan risiko baru akibat rendahnya literasi finansial maupun lemahnya perlindungan data pribadi.(Nr).

Bagikan:
error: