Batam Berpeluang Naik Kelas, Dari Basis Manufaktur Menuju Pusat Investasi dan Teknologi

IMG 20261001 WA0002BATAM- bekasitoday.com- Perubahan peta investasi global membuka peluang bagi Batam, Kepulauan Riau, untuk meningkatkan perannya dalam perekonomian Indonesia. Kawasan yang sejak lama dikembangkan sebagai pintu ekonomi Indonesia di Selat Malaka itu dinilai memiliki modal strategis untuk berkembang dari basis manufaktur menjadi pusat investasi dan teknologi yang terhubung dengan pasar global.

Kedekatan geografis dengan Singapura menjadi salah satu keunggulan utama Batam. Selain berada di jalur pelayaran internasional, Batam memiliki fasilitas perdagangan bebas, kawasan ekonomi khusus, serta akses yang relatif dekat dengan Singapura sebagai salah satu pusat keuangan dan perdagangan dunia.

Di tengah kondisi daya beli domestik yang disebut masih menghadapi tekanan, peluang tersebut dinilai perlu direspons melalui kebijakan ekonomi yang tidak hanya mengandalkan konsumsi dalam negeri, tetapi juga memperkuat investasi dan ekspor.

Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai Indonesia perlu memperluas sumber pertumbuhan ekonomi dengan mendorong investasi dan aktivitas ekonomi yang terhubung langsung dengan pasar internasional.

“Dalam situasi seperti ini dimana ada masalah daya beli (konsumsi lemah), kebijakan ekonomi harus inovatif dan terus mencari alternatif, “kata Didik.

Menurutnya, pengalaman Vietnam dapat menjadi salah satu pembanding dalam membangun perekonomian yang lebih terbuka terhadap investasi dan pasar internasional.

“Indonesia tidak akan pernah mencapai tingkat pertumbuhan 7-8 seperti dijanjikan jika menghindari kebijakan investasi dan ekspor yang berorientasi ke luar, “ujarnya.

Peluang di Tengah Pergeseran Investasi Global

Perubahan lanskap geopolitik dunia juga dinilai dapat menciptakan peluang bagi negara dan kawasan lain untuk menawarkan destinasi investasi alternatif.

Didik melihat dinamika geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong investor melakukan diversifikasi lokasi investasi. Ia tidak menyebut adanya eksodus besar-besaran modal dari Dubai, Abu Dhabi maupun Qatar, tetapi menilai perubahan arus investasi dapat membuka persaingan baru antarpusat ekonomi.

“Peluang alternatif pergeseran investasi karena masalah geopolitik ini sebenarnya bisa menempatkan Indonesia menerima luapan gerak investasi tersebut, “katanya.

Dalam konteks tersebut, Batam memiliki posisi yang relatif strategis. Kota ini tidak hanya menawarkan kawasan industri dan berbagai fasilitas investasi, tetapi juga berhadapan langsung dengan Singapura dan berada dalam ekosistem perdagangan Asia Tenggara.

Kombinasi tersebut membuat Batam berpotensi menjadi salah satu pintu masuk modal internasional ke Indonesia.

Dari Gagasan Habibie Menuju Pusat Ekonomi Baru

Pengembangan Batam sebagai kawasan industri yang berorientasi pada ekonomi internasional bukan merupakan gagasan baru.

Sejak era 1980-an, Batam telah dikembangkan dengan orientasi kuat terhadap aktivitas ekonomi dan perdagangan internasional. Fondasi pembangunan tersebut tidak terlepas dari gagasan pengembangan kawasan yang pada masa itu turut didorong oleh Prof. B.J. Habibie.

Seiring perkembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, skala Batam kini jauh berbeda dibandingkan masa awal pengembangannya.

Didik melihat perkembangan tersebut membuka peluang bagi Batam untuk memasuki fase baru sebagai pusat ekonomi regional.

“Dengan penduduk lebih dari 2 juta, Batam bisa direncanakan untuk menjadi ‘Dubai Kecil’ di Sumatera, “ujarnya.

Istilah tersebut digunakan Didik sebagai gambaran ambisi untuk menjadikan Batam sebagai kota ekonomi yang mampu menarik modal internasional dan menjadi simpul aktivitas bisnis lintas negara.

Interaksi ekonomi dengan Singapura dinilai menjadi salah satu faktor pendukung.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal yang lalu mencapai 7 persen dan dinamis karena saling berinteraksi dengan Singapura, yang sudah penuh sesak, “kata Didik.

Investasi Teknologi Mulai Membidik Batam

Perubahan lain yang menjadi perhatian adalah munculnya peluang investasi berbasis teknologi tinggi.

Didik menyebut nilai investasi Batam pada 2025 mencapai sekitar Rp69,3 triliun, sementara sektor digital disebut mencapai sekitar Rp8,56 triliun.

Pemerintah juga mendorong kawasan Batam-Bintan-Karimun sebagai salah satu hub industri hijau, termasuk melalui kerja sama penyediaan listrik bersih dengan Singapura.

Di tengah agenda tersebut, rencana investasi yang dikaitkan dengan Nvidia turut menjadi sorotan. Dalam informasi yang disampaikan, nilai investasi tersebut disebut sekitar US$4,5 miliar atau sekitar Rp80,55 triliun, yang diarahkan untuk pengembangan infrastruktur pusat data dan kecerdasan buatan.

Rencana pengembangan Nvidia DSX AI Factory di Kawasan Ekonomi Khusus Batam disebut melibatkan Firmus Technologies dari Australia dan Day One dari Singapura, dengan target operasi secara bertahap mulai kuartal pertama 2027 hingga 2028.

Bagi Didik, kehadiran investor teknologi berskala global berpotensi menciptakan efek berantai terhadap investasi dan ekosistem bisnis di Batam.

“Dengan satu investor besar dan signifikan seperti ini, maka investasi Batam bisa baik 2-3 kali lipat, “ujarnya.

Ia menggambarkan investor besar sebagai pemicu yang dapat menarik perusahaan lain untuk masuk ke dalam rantai pasok dan ekosistem bisnis yang terbentuk.

“Kuncinya adalah kebijakan investasi, jika kepala naga sudah masuk dan percaya, maka badan dan ekornya akan segera ikut masuk ke dalam, “kata Didik.

Hilirisasi Perlu Diiringi Investasi Teknologi

Perkembangan Batam juga menunjukkan bahwa strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pengolahan sumber daya alam.

Menurut Didik, kebijakan hilirisasi perlu berjalan berdampingan dengan upaya menarik investasi teknologi tinggi.

“Selain gempita dengan kebijakan mengolah sumberdaya alam, kita perlu kebijakan investasi menarik teknologi tinggi seperti Nvidia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, “ujarnya.

Jika investasi berbasis teknologi berkembang, Batam berpotensi memperluas perannya dari kawasan industri dan manufaktur menjadi bagian dari rantai ekonomi digital regional.

Namun, peluang tersebut juga menghadirkan tantangan, terutama dalam memastikan investasi yang masuk dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

Kepastian Hukum Jadi Faktor Penentu

Besarnya peluang investasi tidak otomatis menjamin investor akan mempertahankan maupun menambah modalnya.

Kepastian hukum, konsistensi regulasi, kualitas pelayanan investasi, infrastruktur, ketersediaan tenaga kerja serta iklim usaha menjadi sejumlah faktor yang menentukan keberlanjutan investasi.

Didik menilai Batam telah memiliki sejumlah modal awal, antara lain status Free Trade Zone (FTZ), fasilitas kawasan ekonomi khusus dan posisi geografis yang strategis.

“Batam bisa menjadi ‘Dubai kecil‘ di Sumatera karena sudah memiliki keunggulan sejak keberadaannya, strategis secara geografis, berimpit dengan kota global Singapura, ada di jalur pelayaran internasional, “katanya.

Menurutnya, kombinasi keunggulan geografis, fasilitas investasi dan peluang masuknya investor teknologi dapat membuka fase baru bagi Batam.

“Dengan dinamika yang ada dalam waktu dekat Batam bisa menjadi pintu masuk modal Timur Tengah dan Asia.”

Pada akhirnya, tantangan Batam bukan hanya bagaimana menarik investor datang, tetapi juga bagaimana memastikan investasi tersebut menciptakan efek ekonomi yang lebih luas.

Investasi diharapkan mampu membuka lapangan kerja berkualitas, memperkuat industri pendukung, meningkatkan kapasitas teknologi dan memperbesar keterlibatan Batam dalam rantai pasok global.

Dengan kebijakan investasi yang konsisten, kepastian hukum dan pelayanan usaha yang kompetitif, Batam memiliki peluang untuk memperluas perannya dari kawasan industri menjadi salah satu simpul ekonomi internasional Indonesia.(Nr).

Bagikan:
error: