Herry Dahana: Indonesia Emas 2045 Harus Dibangun dengan Kerja Nyata, Pemerintahan Bersih, dan Kepemimpinan Berani

IMG 20260707 WA0024JAKARTA- bekasitoday.com – Cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 dinilai tidak akan tercapai hanya dengan optimisme maupun slogan pembangunan. Dibutuhkan kepemimpinan yang berani mengambil keputusan, tata kelola pemerintahan yang bersih, serta kebijakan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Anggota Dewan Pembina PP Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA), Herry Dahana, melalui tulisannya berjudul Indonesia Emas 2045: Saatnya Optimisme Dibuktikan dengan Kerja Nyata yang dipublikasikan pada Selasa (7/7/2026).

Menurut Herry, Indonesia saat ini berada pada momentum penting dalam perjalanan pembangunan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Kekayaan sumber daya alam, katanya, tidak akan cukup mengantarkan Indonesia menjadi negara maju tanpa didukung kepemimpinan yang visioner dan pemerintahan yang efektif.

“Tidak ada bangsa yang menjadi maju hanya karena memiliki kekayaan alam. Bangsa besar lahir dari kepemimpinan yang berani mengambil keputusan, pemerintahan yang bersih, serta kemampuan membangun kepercayaan rakyat. Indonesia kini berada pada momentum sejarah tersebut, “ujar Herry.

Mantan Deputi Politik dan Strategi Wantannas RI itu menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memulai masa kepemimpinannya di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perlambatan ekonomi dunia, rivalitas geopolitik, disrupsi teknologi, hingga ancaman krisis pangan dan energi. Karena itu, Indonesia dinilai memerlukan fondasi ekonomi yang kuat sekaligus sistem pemerintahan yang adaptif dan mampu bekerja secara efektif.

Herry menilai sejumlah program prioritas pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan dan energi, pembangunan sumber daya manusia, serta percepatan investasi merupakan langkah strategis dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia sebagai negara maju.

Menurutnya, berbagai kebijakan tersebut mulai memperoleh legitimasi publik karena manfaatnya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kepercayaan publik akan tumbuh ketika kebijakan mampu menjawab kebutuhan riil rakyat, “katanya.

Ia mengutip hasil survei Indikator Politik Indonesia pada awal 2026 yang menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis mencapai sekitar 72,8 persen. Sebanyak 60 persen responden juga mendukung agar program tersebut menjangkau seluruh anak Indonesia, sementara lebih dari sepertiga responden mengaku anggota keluarganya telah menerima manfaat langsung dari program tersebut.

Di bidang ekonomi, Herry menyoroti realisasi investasi nasional sepanjang 2025 yang mencapai sekitar Rp1.931 triliun atau melampaui target pemerintah. Selain itu, investasi di sektor hilirisasi meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mampu menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun dunia tengah menghadapi perlambatan ekonomi.

Meski demikian, Herry mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya investasi maupun tingginya pertumbuhan ekonomi.

“Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat melalui bertambahnya lapangan kerja, meningkatnya kesejahteraan, berkurangnya kemiskinan, dan semakin meratanya pembangunan di seluruh wilayah Indonesia, “tegasnya.

Selain aspek ekonomi, Herry juga menekankan pentingnya memperkuat tata kelola pemerintahan. Menurutnya, korupsi masih menjadi ancaman utama yang dapat menghambat pencapaian target Indonesia Emas 2045 karena setiap penyimpangan anggaran pada hakikatnya mengurangi hak masyarakat untuk memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan publik yang lebih baik.

Oleh sebab itu, ia menilai pemberantasan korupsi, reformasi birokrasi, digitalisasi pelayanan publik, serta penegakan hukum yang profesional dan independen harus menjadi agenda prioritas nasional.

Dalam kehidupan demokrasi, Herry menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap memiliki peran penting sebagai bagian dari mekanisme pengawasan.

“Dukungan kepada pemerintah tidak berarti menghilangkan fungsi kontrol. Kritik yang objektif, berbasis data, dan disampaikan secara konstruktif justru menjadi energi positif agar setiap kebijakan terus disempurnakan demi kepentingan rakyat, “ujarnya.

Herry optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju karena didukung kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, posisi geopolitik yang strategis, serta pasar domestik yang kuat. Namun, seluruh potensi tersebut hanya akan menghasilkan kemajuan apabila diiringi konsistensi dalam bekerja, keberanian melakukan reformasi, kepastian hukum, serta kemampuan menjaga persatuan nasional.

“Rakyat tidak menuntut pemerintah menjadi sempurna. Yang mereka harapkan adalah pemerintah yang bekerja sungguh-sungguh, berani mengambil keputusan, terbuka terhadap kritik, dan mampu menghadirkan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari, “tuturnya.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Hukum Universitas Trisakti tersebut menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 bukanlah target yang akan tercapai secara otomatis, melainkan harus diwujudkan melalui kerja nyata yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Optimisme nasional tidak boleh berhenti sebagai slogan politik. Optimisme harus dibangun melalui hasil yang dapat diukur, dirasakan, dan dipertanggungjawabkan. Sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling banyak berjanji, melainkan siapa yang mampu bekerja, menjaga amanah rakyat, dan meninggalkan warisan pembangunan bagi generasi mendatang, “pungkasnya.(Nr).

Bagikan:
error: