Eksplorasi LTJ Mamuju Dihadapkan pada Penolakan Warga, Kepercayaan Publik Jadi Tantangan

IMG 20260911 WA0072MAMUJU- bekasitoday.com– Eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, memasuki fase penting. Di tengah besarnya potensi mineral strategis yang dinilai dapat mendukung pengembangan industri nasional, rencana pengeboran lebih dari 30 titik di Blok Botteng oleh PT Perminas (Persero) masih menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat.

Keberatan warga terutama berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi lahan, sumber air, serta ruang hidup masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Situasi tersebut menjadi catatan penting bagi keberlanjutan proyek eksplorasi LTJ Mamuju. Sebab, keberhasilan kegiatan eksplorasi mineral strategis tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis dan potensi ekonominya, tetapi juga oleh tingkat penerimaan serta kepercayaan masyarakat di sekitar wilayah kegiatan.

Blok Botteng merupakan salah satu kawasan yang dinilai memiliki prospek LTJ. Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya memetakan potensi sumber daya tereka LTJ di tiga blok di Mamuju, yakni Botteng, Botteng Utara dan Takandeang.

Kadar oksida tanah jarang yang teridentifikasi berada pada kisaran 2.578 hingga 4.571 ppm. Potensi tersebut menempatkan Mamuju sebagai salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pengembangan LTJ di tingkat nasional.

Namun, potensi sumber daya tersebut berhadapan dengan tantangan sosial di lapangan.

Sejumlah warga Botteng mempertanyakan proses sosialisasi yang dinilai belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat untuk memahami konsekuensi kegiatan eksplorasi, khususnya terkait dampaknya terhadap lahan dan sumber air.

Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari dinamika yang perlu dijawab secara terbuka oleh seluruh pihak terkait. Informasi mengenai kondisi geologi, metode pengeboran, potensi dampak, langkah perlindungan lingkungan, hingga mekanisme penyelesaian apabila terjadi persoalan di lapangan dinilai penting untuk memastikan ruang dialog tidak berhenti pada penyampaian informasi satu arah.

Eksplorasi Belum Berarti Tambang Produksi

PT Perminas menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung saat ini masih berada pada tahap eksplorasi dan penelitian awal. Perusahaan menjalankan kegiatan berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi untuk wilayah Blok Takandeang maupun Botteng.

Tahap eksplorasi berbeda dengan kegiatan pertambangan produksi. Hasil pengeboran dan penelitian nantinya masih harus melalui berbagai kajian untuk menentukan kelayakan pengembangan dari sisi teknis, ekonomi maupun lingkungan.

Perusahaan memperkirakan perjalanan menuju tahap produksi, apabila seluruh persyaratan terpenuhi, dapat membutuhkan waktu sekitar delapan tahun.

Dengan demikian, kegiatan pengeboran sampel yang saat ini menjadi perhatian sebagian masyarakat belum identik dengan dimulainya operasi tambang berskala penuh.

Di Desa Takandeang, sejumlah pendekatan telah dilakukan perusahaan. Di antaranya koordinasi rutin dengan pemerintah desa terkait kegiatan pengeboran, rencana penyediaan sarana air bersih bagi warga Dusun Paladda, membuka peluang tenaga kerja lokal sesuai kebutuhan, serta menyelesaikan persoalan lahan masyarakat yang terdampak langsung oleh titik pengeboran.

Namun, pendekatan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan kondisi serupa di Botteng. Penolakan masyarakat masih terjadi.

Kondisi itu menjadi evaluasi tersendiri bagi perusahaan. Sebab, pola pendekatan yang berjalan di satu wilayah belum tentu dapat diterapkan secara otomatis di wilayah lain yang memiliki karakter sosial, kebutuhan, dan persoalan berbeda.

Dialog Dinilai Tak Boleh Sekadar Formalitas

Upaya membuka ruang komunikasi kemudian dilakukan melalui forum ilmiah bertema “Green LTJ” yang digelar pada 5 September 2026 di salah satu perguruan tinggi di Mamuju.

Forum tersebut mempertemukan PT Perminas dan BRIN dengan kalangan akademisi, peneliti, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa, organisasi kemahasiswaan serta perwakilan warga.

Forum ilmiah dinilai memiliki arti penting apabila menjadi ruang untuk menguji informasi secara terbuka. Masyarakat tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai besarnya potensi LTJ, tetapi juga jawaban konkret mengenai risiko, metode eksplorasi, perlindungan lingkungan serta mekanisme penyelesaian apabila muncul persoalan di lapangan.

Pendiri Beranda Ruang Diskusi, Raldy Doy, lulusan Geologi UPN Yogyakarta, menilai keterbukaan informasi merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Menurutnya, setiap pertanyaan masyarakat harus dijawab berdasarkan bidang persoalannya.

“Kalau masyarakat bertanya tentang lingkungan, jawab dengan kajian lingkungan. Kalau bertanya mengenai kandungan mineral, jawab dengan data geologi. Kalau ada persoalan lahan, selesaikan secara terbuka dan adil, “ujarnya.

Raldy juga mengingatkan agar forum dialog tidak diposisikan semata-mata sebagai sarana untuk memperoleh persetujuan otomatis dari masyarakat.

Menurutnya, LTJ memiliki dimensi lebih luas karena berkaitan dengan kepentingan strategis negara. Namun, kepentingan tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat serta perlindungan lingkungan.

Ujian Sebenarnya Ada di Lapangan

Pada akhirnya, eksplorasi LTJ Mamuju tidak hanya akan diuji melalui hasil pengeboran maupun besarnya potensi mineral yang ditemukan. Ujian yang tidak kalah penting adalah bagaimana kegiatan tersebut dikelola ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan masyarakat.

Penolakan warga Botteng tidak semestinya dipandang hanya sebagai hambatan. Keberatan tersebut justru dapat menjadi instrumen untuk menguji sejauh mana informasi, kajian ilmiah, serta mekanisme perlindungan terhadap masyarakat benar-benar disiapkan.

Di sisi lain, pemerintah dan perusahaan memiliki kepentingan strategis untuk mengembangkan sumber daya LTJ sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian teknologi dan rantai industri mineral nasional.

Kedua kepentingan tersebut tidak harus ditempatkan dalam posisi berhadap-hadapan. Titik temu dapat dibangun melalui proses yang transparan, data yang dapat diuji, penyelesaian persoalan lahan secara adil, serta komitmen terhadap perlindungan sumber air dan lingkungan.

Mamuju kini berada di persimpangan penting. Potensi LTJ yang besar membuka peluang ekonomi sekaligus kepentingan strategis nasional. Namun, keberlanjutan pengembangannya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah, perusahaan, akademisi, dan masyarakat membangun kepercayaan.

Dengan demikian, babak baru eksplorasi LTJ di Mamuju bukan hanya tentang seberapa besar kandungan mineral yang tersimpan di bawah tanah. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah pengelolaannya mampu membuktikan bahwa kepentingan nasional, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan lingkungan dapat berjalan dalam satu jalur.(Nr).

Bagikan:
error: